Yann LeCun galang US$1 miliar untuk AMI, taruhan baru lawan AI chatbot

Kamis, 12 Maret 2026

image

JAKARTAYann LeCun, mantan kepala ilmuwan AI di Meta, menggalang pendanaan lebih dari US$1 miliar untuk startup barunya, Advanced Machine Intelligence (AMI), yang mengembangkan pendekatan alternatif dalam kecerdasan buatan.

Dikutip Wired, startup yang berbasis di Paris tersebut menargetkan pengembangan AI world models, yaitu sistem AI yang dirancang memahami dunia fisik sebagai dasar penalaran, bukan hanya memproses bahasa seperti model bahasa besar (LLM).

 LeCun menilai sebagian besar penalaran manusia berakar dari interaksi dengan dunia nyata. Karena itu, menurutnya, pengembangan model dunia menjadi kunci untuk mencapai kecerdasan buatan yang setara dengan kecerdasan manusia.

“Gagasan bahwa Anda dapat terus memperluas kemampuan LLM hingga mencapai titik di mana mereka memiliki kecerdasan setara manusia adalah omong kosong belaka,” kata LeCun dalam wawancara dengan WIRED.

Pendanaan tersebut memberi valuasi sekitar US$3,5 miliar bagi AMI. Putaran investasi dipimpin oleh Cathay Innovation, Greycroft, Hiro Capital, HV Capital, serta Bezos Expeditions. Investor lain termasuk Mark Cuban, mantan CEO Google Eric Schmidt, dan miliarder Prancis Xavier Niel.

AMI menyatakan akan membangun generasi baru sistem AI yang mampu memahami dunia, memiliki memori yang persisten, dapat bernalar dan merencanakan, serta tetap dapat dikendalikan dan aman.

Perusahaan ini akan beroperasi secara global sejak awal dengan kantor di Paris, Montreal, Singapura, dan New York. LeCun juga tetap menjalankan perannya sebagai profesor di New York University sambil memimpin startup tersebut.

AMI menjadi proyek komersial pertama LeCun setelah meninggalkan Meta pada November 2025. Startup ini juga menjadi taruhan berbeda dari banyak laboratorium AI besar seperti OpenAI dan Anthropic yang meyakini bahwa peningkatan skala LLM dapat menghasilkan kecerdasan setara manusia.

LeCun mengatakan AMI akan bekerja sama dengan berbagai industri seperti manufaktur, biomedis, dan robotika. Salah satu penerapannya adalah membangun model dunia realistis dari mesin pesawat untuk membantu produsen meningkatkan efisiensi, menekan emisi, serta menjaga keandalan sistem.

Perbedaan pendekatan LeCun dengan model AI saat ini terletak pada cara memahami realitas. Model bahasa besar (LLM) berfokus pada pengolahan dan prediksi pola dalam teks atau bahasa. Sementara pendekatan world model yang dikembangkan LeCun mencoba membangun representasi matematis tentang bagaimana dunia fisik bekerja, sehingga AI dapat memahami hubungan sebab-akibat, merencanakan tindakan, dan memprediksi perubahan dalam lingkungan nyata, bukan hanya menghasilkan jawaban berbasis bahasa. (DH)