Harga minyak mentah naik, bitcoin turun ke level US$69.600

Kamis, 12 Maret 2026

image

JAKARTA - Harga bitcoin melemah pada Kamis (12/3) pagi di Asia, turun sekitar 2% ke level US$69.600, seiring harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 10% akibat meningkatnya kekhawatiran atas konflik di Iran.

Seperti dikutip Bloomberg, serangan terhadap dua kapal tanker di perairan Irak memicu sentimen risiko yang berhati-hati di pasar, termasuk pasar saham.

Sejak awal kampanye pengeboman AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, bitcoin relatif stabil dibandingkan aset lain.

“Kami memperkirakan adanya aksi ambil untung di level US$70.000,” ujar Rachael Lucas, analis di BTC Markets. “Volatilitas minyak dan ketidakpastian geopolitik membuat sentimen pasar tetap hati-hati dalam jangka pendek.”

Pasar menghadapi fluktuasi karena sinyal yang kontradiktif terkait konflik Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyebut perang bisa segera berakhir, namun waktunya masih tidak jelas.

Sementara itu, Iran terus menyerang target di wilayah tersebut dan mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, jalur perdagangan penting.

Lonjakan harga energi membuat investor beralih ke dolar, sementara bitcoin berperan sebagai aset likuid untuk bergerak cepat sesuai kondisi pasar.

Menurut Andreja Cobeljic, Kepala Perdagangan Derivatif di Amina Bank, kondisi pasar menunjukkan bitcoin berpotensi melanjutkan momentum naik dalam waktu dekat.

Ia menyoroti tingkat pendanaan negatif pada kontrak futures perpetual, yang mencapai level terendah hampir lima minggu pada Kamis.

“Akumulasi whale di kisaran harga US$60.000 menandakan peluang reli jangka pendek lebih konstruktif daripada yang terlihat dari headline,” kata Cobeljic.

Dengan dinamika geopolitik dan volatilitas energi, bitcoin tetap menjadi aset penting bagi investor untuk menavigasi risiko pasar global. (DK)