Serangan tanker di Selat Hormuz picu dolar menguat

Kamis, 12 Maret 2026

image

JAKARTA - Dolar Amerika Serikat menguat terhadap euro dan yen pada Rabu di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi global.

Penguatan dolar terjadi setelah Iran melancarkan serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas penyimpanan energi. Ketegangan tersebut mendorong pelaku pasar mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Dikutip reuters, sejak akhir Februari, dolar telah menguat sekitar 2% terhadap euro. Pada perdagangan Rabu, mata uang AS naik 0,4% terhadap euro dan 0,5% terhadap yen menjadi sekitar 158,90 yen.

Komando militer Iran pada Rabu, memperingatkan bahwa dunia harus bersiap menghadapi kemungkinan harga minyak mencapai US$200 per barel, setelah tiga kapal kembali diserang di kawasan Teluk yang diblokade.

Harga minyak melonjak lebih dari 4% setelah serangan baru terhadap kapal di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Sejumlah analis menilai rencana Badan Energi Internasional (IEA) untuk melepas 400 juta barel cadangan minyak tidak cukup meredakan kekhawatiran pasar.

“Perang di Iran dan dampaknya terhadap harga energi masih menjadi fokus utama pasar valuta asing,” kata analis pasar FX Ballinger Group di London, Kyle Chapman.

“Optimisme tentang berakhirnya perang dalam waktu dekat tampaknya kembali memudar karena Iran menyerang kapal dan berupaya menanam ranjau di Selat Hormuz.”

Militer Amerika Serikat menyatakan telah “menyingkirkan” 16 kapal Iran yang menebar ranjau di sekitar jalur pelayaran utama Selat Hormuz pada Selasa. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa setiap ranjau yang dipasang Iran di selat tersebut harus segera disingkirkan.

Di sisi lain, data menunjukkan harga konsumen AS naik moderat pada Februari. Namun pelaku pasar lebih fokus pada potensi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi. “(Laporan itu) tidak terlalu relevan saat ini... pergerakan harga dan kenaikan suku bunga baru-baru ini lebih mencerminkan pandangan ke depan,” kata Shahab Jalinoos, kepala riset FX G10 di UBS.

“Apa yang terjadi jika harga energi global tetap tinggi? Apa dampaknya terhadap inflasi inti maupun inflasi utama? Pertanyaan-pertanyaan itu yang sedang dipikirkan pasar,” ujarnya. Investor menilai lonjakan inflasi dalam beberapa bulan ke depan dapat menyulitkan Federal Reserve untuk kembali menurunkan suku bunga.

Di pasar mata uang lainnya, dolar Australia naik 0,4% menjadi US$0,7149 seiring ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia. Sementara itu, pound sterling bergerak stabil di sekitar US$1,3414 di tengah kekhawatiran gangguan pasokan minyak global. Di pasar kripto, bitcoin naik sekitar 1% menjadi US$70.794, meski masih berada dekat level terendah dalam beberapa tahun terakhir.(DH)