Pentagon selidiki serangan bom Amerika di sekolah anak-anak Iran

Jumat, 13 Maret 2026

image

JAKARTA - Serangan terhadap sebuah sekolah dasar di kota Minab, Iran selatan, yang menewaskan lebih dari 170 orang sebagian besar anak-anak memicu kemarahan dan tuntutan penyelidikan di Amerika Serikat.

Insiden tersebut juga menyoroti besarnya korban sipil dalam perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Dikutip Aljazeera, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan yang berubah-ubah terkait serangan tersebut. Pada awalnya ia menuduh Iran berada di balik pengeboman itu. Namun belakangan Trump menyatakan tidak mengetahui rincian kejadian tersebut.

Laporan The New York Times pada Rabu menyebut penyelidikan awal United States Department of Defense menemukan bahwa militer Amerika Serikat kemungkinan berada di balik serangan tersebut.

Ketika ditanya apakah ia bertanggung jawab atas serangan itu setelah laporan tersebut terbit, Trump menjawab, “Saya tidak tahu tentang itu.”

Beberapa hari sebelumnya, Trump justru menyatakan Iran mengebom sekolahnya sendiri di Minab. “Berdasarkan apa yang saya lihat, itu dilakukan oleh Iran,” kata Trump pada hari Sabtu.

“Kami pikir itu dilakukan oleh Iran karena mereka sangat tidak akurat, seperti yang Anda ketahui, dengan amunisi mereka. Mereka sama sekali tidak akurat. Itu dilakukan oleh Iran.”

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang berdiri di belakang Trump saat itu tidak mendukung pernyataan tersebut dan hanya menyatakan bahwa Pentagon masih menyelidiki insiden itu.

Serangan pada 28 Februari tersebut menjadi simbol besarnya dampak perang terhadap warga sipil. Pejabat Iran menyebut sedikitnya 1.300 orang telah tewas sejak konflik dimulai.

Rekaman baru dari lokasi serangan mendorong sejumlah media dan investigasi independen menyimpulkan bahwa serangan dilakukan menggunakan rudal Tomahawk. Senjata tersebut merupakan sistem persenjataan Amerika Serikat dan tidak dimiliki Iran maupun Israel.

Trump pada Senin mengatakan Iran juga memiliki rudal tersebut. “Mereka berharap memiliki lebih banyak. Tetapi, entah itu Iran atau negara lain, faktanya Tomahawk itu sangat umum. Rudal itu dijual ke negara lain,”ujarnya.

Pakar militer menolak klaim itu karena Iran berada di bawah sanksi berat Washington dan tidak dapat membeli senjata dari Amerika Serikat.

Ketika ditanya mengapa pejabat pemerintahannya tidak mengulangi tuduhan terhadap Iran, Trump mengatakan, “Karena saya memang tidak cukup tahu tentang hal itu.” Ia juga menyatakan akan menerima hasil penyelidikan resmi. “Tentu saja. Apa pun hasil laporannya, saya bersedia menerimanya,” kata Trump.

Militer AS sebelumnya telah mengonfirmasi penggunaan rudal Tomahawk dalam gelombang awal serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Peta serangan yang dirilis Pentagon juga menunjukkan target di wilayah Minab.

Senator Partai Republik John Kennedy mengatakan Amerika Serikat kemungkinan berada di balik serangan tersebut, tetapi menilai insiden itu sebagai kesalahan.

“Kami sedang menyelidiki, tetapi saya tidak akan bersembunyi di balik itu. Saya pikir itu adalah kesalahan yang sangat, sangat buruk,” kata Kennedy kepada CNN.

“Investigasi mungkin membuktikan saya salah, saya harap begitu. Anak-anak itu tetap meninggal.”

Ia menambahkan bahwa dirinya menyesal atas apa yang terjadi.

Sementara itu, hampir seluruh senator dari Partai Demokrat mengirim surat kepada Hegseth pada Rabu yang menuntut penjelasan terkait serangan di Minab. Mereka meminta rincian mengenai langkah mitigasi korban sipil serta kemungkinan penggunaan kecerdasan buatan dalam pemilihan target.

Dalam surat tersebut para senator menulis: "Agar jelas, perang melawan Iran adalah perang pilihan tanpa otorisasi Kongres.”

Mereka juga menuntut penyelidikan cepat atas serangan tersebut serta publikasi hasilnya kepada masyarakat, termasuk langkah untuk memastikan akuntabilitas jika terbukti terjadi kesalahan militer.(DH)