Prabowo targetkan PLTS 100 GW percepat transisi energi di Indonesia
Jumat, 13 Maret 2026

JAKARTA - Indonesia mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong transisi menuju energi bersih.
Berdasarkan laman resmi esdm.go.id, Kamis (12/3), langkah ini menekankan pemanfaatan sumber energi melimpah di Indonesia, mulai dari tenaga surya, panas bumi, hingga biomassa.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan komitmen tersebut saat menugaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Transisi Energi.
Prabowo menekankan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar dan program konversi motor listrik sebagai fokus percepatan jangka pendek.
“Kita sudah punya niat untuk swasembada energi, yang kita yakin akan tercapai dalam 4 tahun. Target ini tentunya memerlukan upaya keras dan percepatan dengan mengoptimalkan sumber-sumber energi alternatif yang kita miliki. Dengan akselerasi ini kita yakin permasalah energi ini dapat terselesaikan,” ujar Presiden Prabowo pada acara Syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Danantara Indonesia, di Jakarta, Rabu (11/3).
Prabowo juga menekankan bahwa Indonesia memiliki sumber energi alternatif yang melimpah dibanding negara lain yang sedang menghadapi krisis energi lebih berat.
“Banyak negara dalam kondisi yang lebih menyedihkan daripada kita, kita punya kelapa sawit yang sangat banyak, kita punya singkong yang cukup, kita bisa dapat BBM dari jagung, dari tebu. Saudara-saudara kita punya geothermal (panas bumi) yang sangat besar. Kalau tidak salah kedua cadangan terbesar di dunia yang belum dieksploitasi sepenuhnya,” jelas Prabowo.
Untuk mempercepat transisi energi, Presiden memerintahkan pembangunan PLTS senilai 100 gigawatt (GW).
“Kita akan melaksanakan elektrifikasi energi terbarukan dari tenaga surya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita akan membangun 100 gigawatt. Itu sudah perintah saya. Itu sudah keputusan saya dan kita akan buktikan kepada dunia bahwa kita lebih cepat dan efektif dalam hal ini,” tambah Prabowo.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa perintah Presiden bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
“Saat ini kita punya pembangkit itu masih pakai diesel, sebagian batubara, sebagian gas. Arahan Bapak Presiden, agar kita tidak tergantung pada fosil, khususnya diesel, maka diarahkan untuk kita membangun PLTS 100 gigawatt,” ujar Bahlil dalam tayangan Podcast Bukan Abuleke, Kementerian ESDM, Rabu (11/3).
Bahlil menambahkan bahwa pembangunan PLTS berskala besar merupakan salah satu langkah optimalisasi pemanfaatan seluruh sumber energi daerah, termasuk geothermal dan air, untuk mendukung percepatan transisi energi.
“Optimalisasi pemanfaatan EBT kita lakukan bukan dengan PLTS saja, tapi juga dengan mempergunakan seluruh sumber daerah kita, seperti geothermal, maupun air. Nah, dengan kita memakai power plant seperti ini, maka kita tidak tergantung lagi dari luar negeri terhadap energi fosil,” jelas Bahlil. (DK)