Lonjakan harga minyak berlanjut, ekonom ingatkan Amerika bisa resesi

Jumat, 13 Maret 2026

image

NEW YORK - Kenaikan harga energi akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menambah tekanan ekonomi bagi konsumen Amerika Serikat.Meski demikian, Presiden Donald Trump tetap menyebut operasi militer tersebut sebagai keberhasilan.Seperti dikutip Al Jazeera, Trump menyatakan perang telah dimenangkan dengan cepat, namun dampak ekonomi mulai terasa karena jalur energi penting dunia di Selat Hormuz masih tertutup.Penutupan jalur ini memutus pasokan minyak dari kawasan Teluk, sementara Iran terus melancarkan serangan terhadap kapal di wilayah tersebut.Harga minyak pun melonjak dan sempat menembus US$100 per barel, bahkan muncul peringatan bahwa harga dapat mencapai US$200 per barel jika konflik berlanjut.Rachel Ziemba dari Center for a New American Security mengatakan dampak terhadap konsumen akan sangat bergantung pada lamanya konflik dan seberapa cepat aktivitas pelayaran di Teluk kembali normal.Jika perang berakhir cepat dan stabil, harga energi berpotensi kembali normal dalam waktu singkat.Namun jika konflik berlangsung lama dengan intensitas tinggi, konsumen akan menghadapi harga yang lebih mahal dan fluktuatif.Laporan International Energy Agency bahkan menyebut konflik Timur Tengah saat ini menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.Sam Ori dari Energy Policy Institute at the University of Chicago menjelaskan bahwa dalam sejarahnya, resesi sering terjadi ketika harga minyak mencapai sekitar 4%–5% dari produk domestik bruto.Menurutnya, ekonomi AS kemungkinan menghadapi resesi jika harga minyak bertahan di sekitar US$140 per barel sepanjang tahun.Risiko tersebut akan meningkat drastis jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama.Selat yang memisahkan Iran dan Semenanjung Arab itu menyalurkan lebih dari seperlima pasokan minyak dunia melalui kapal tanker, sehingga gangguan di wilayah tersebut dapat mengguncang ekonomi global.Sementara itu, dampak langsung sudah dirasakan konsumen AS. Menurut analis energi Patrick DeHaan dari aplikasi GasBuddy, harga rata-rata bensin nasional telah naik menjadi sekitar US$3,59 per galon, meningkat sekitar 65 sen sejak Februari.Ia memperkirakan harga bahan bakar dapat terus naik sekitar 25 hingga 40 sen setiap minggu selama konflik berlangsung.Para ekonom juga memperingatkan lonjakan inflasi akibat harga energi kemungkinan paling berat dirasakan oleh masyarakat berpendapatan rendah, sementara kemacetan pengiriman global mulai muncul akibat penumpukan kapal di sekitar Selat Hormuz. (DK)