Dassault pamerkan Falcon 10X, jet mewah pesaing Gulfstream
Sabtu, 14 Maret 2026

JAKARTA – Pabrikan dirgantara asal Prancis, Dassault Aviation, secara resmi memamerkan jet bisnis jarak jauh terbarunya, Falcon 10X.
Seperti dikutip Reuters (11/03/2026), pesawat senilai US$80 juta ini dirancang khusus untuk menantang dominasi para pesaing dari Amerika Utara di pasar pesawat mewah kelas atas.
Dalam acara peluncuran yang dihadiri puluhan calon pembeli di pabrik Merignac pada Selasa malam, Dassault memamerkan jet bermesin ganda yang diklaim memiliki kabin terbesar di pasaran.
Falcon 10X dirancang tangguh untuk mampu menempuh jarak terbang sejauh 7.500 mil laut (13.900 km) tanpa henti, memungkinkannya menghubungkan kota-kota besar dunia seperti New York dan Shanghai secara langsung.
CEO Dassault, Eric Trappier, menegaskan bahwa peran utama pesawat ini adalah terbang dalam jarak sangat jauh dengan memastikan kenyamanan dan keamanan maksimal.
Meskipun jet bak "penthouse terbang" ini turut menyasar para individu super kaya dan kepala negara, Trappier memproyeksikan segmen korporasi akan menjadi penyumbang penjualan terbesar.
Secara spesifikasi dan daya jelajah, kehadiran Falcon 10X dipastikan akan memanaskan persaingan tiga arah dengan model raksasa dari Bombardier Kanada (Global 8000) dan unit Gulfstream milik General Dynamics (G800).
Untuk memenangkan persaingan ketat tersebut, Dassault membawa inovasi krusial dengan membenamkan mesin buatan Rolls-Royce asal Inggris, sebuah terobosan perdana bagi perusahaan keluarga yang juga memproduksi jet tempur Rafale ini.
Trappier menyebutkan pesawat ini akan segera melakukan penerbangan perdana dan dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada akhir dekade ini. Target tersebut mundur dari rencana awal (2025 dan 2027) akibat tekanan rantai pasokan industri secara luas yang dipicu oleh pandemi COVID-19.
Peluncuran publik pertama Falcon 10X ini secara kebetulan bertepatan dengan meletusnya eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah. Menanggapi situasi tersebut, Trappier menilai masih terlalu dini untuk mengukur dampaknya terhadap industri penerbangan jet bisnis, mengingat kawasan Timur Tengah hanya menyumbang sekitar 3% dari total pengiriman jet global.
Terlepas dari ketegangan geopolitik saat ini, prospek pasar jet pribadi diproyeksikan tetap cerah. Mengacu pada data firma kedirgantaraan AS, Honeywell, industri ini diprediksi akan mencatatkan 8.500 pengiriman jet bisnis secara global dengan nilai total mencapai US$283 miliar dalam satu dekade mendatang. (SF)