Permata Bank bahas isu free float, spin-off UUS, dan 'naik kelas'
Sabtu, 14 Maret 2026

JAKARTA – PT Bank Permata Tbk (BNLI) masih mencermati dinamika pasar modal terkait rencana peningkatan porsi saham publik (free float) hingga 15%. Hingga saat ini, free float saham Perseroan masih berada di kisaran 9,97%.
Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah Permata Bank, Rudy Basyir Ahmad, mengatakan Perseroan masih memantau perkembangan regulasi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
“Permata Bank terus mencermati dinamika dan perkembangan kegiatan pasar modal, termasuk juga terkait kenaikan free float menjadi 15%,” ujar Rudy dalam Permata Bank Public Expose 2026 di Jakarta, Kamis (12/3).
Menurutnya, Permata Bank bersama Bangkok Bank selaku pengendali Perseroan masih mencari langkah terbaik untuk memenuhi ketentuan tersebut.
Di sisi lain, hingga kini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum menerbitkan detail aturan teknis terkait peningkatan free float tersebut.
“Karena peraturan juga masih belum keluar, jadi kami akan terus memonitor perkembangannya,” kata dia.
-
UUS Permata Bank belum capai ambang spin off
Dalam gelaran yang sama, Permata Bank juga mengungkap perkembangan terkait rencana pemisahan (spin off) Unit Usaha Syariah (UUS), yang sebelumnya telah didorong oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Namun, hingga akhir 2025, total aset UUS Permata Bank dilaporkan masih berada di kisaran Rp35 triliun hingga Rp36 triliun.
Angka tersebut masih berada di bawah ambang batas atau threshold spin off sebesar Rp50 triliun, yang menjadi salah satu indikator bagi UUS bank konvensional untuk melakukan pemisahan menjadi bank umum syariah tersendiri.
Rudy mengatakan fokus Perseroan saat ini adalah memperkuat bisnis syariah secara fundamental, baik dari sisi neraca, diversifikasi bisnis, maupun peningkatan layanan kepada masyarakat.
“Ke depannya itu kita akan terus fokus untuk memperkuat syariahnya dan sejalan dengan pertumbuhan bank,” ujar Rudy.
Menurutnya, Permata Bank juga tidak menahan pertumbuhan bisnis syariah. Selama peluang pertumbuhan masih tersedia, Perseroan akan terus mengembangkan bisnis tersebut secara bertahap.
Namun, ia memastikan bahwa pertumbuhan bisnis syariah dilakukan secara berkelanjutan dan tidak dipaksakan hanya untuk mengejar target spin-off.
“Kami memastikan pertumbuhan itu adalah pertumbuhan yang sustainable. Tidak didongkrak untuk mempercepat, tapi yang benar-benar sustain,” kata dia.
-
Permata Bank respons imbauan OJK naik ke KBMI IV
Di sisi lain, Permata Bank juga menanggapi imbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bank-bank dengan kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) III dapat memperkuat permodalan dan naik ke KBMI IV.
Menurut Rudy, Perseroan menyambut positif dorongan tersebut karena peningkatan kategori KBMI menunjukkan penguatan fundamental perbankan.
“Untuk masuk ke KBMI 4 tentu himbauan itu kita terima dengan positif. Dengan naiknya dari KBMI 3 ke KBMI 4 itu menunjukkan bahwa bank-bank akan lebih kuat dengan sendirinya,” ujarnya.
Untuk dapat masuk ke kelompok KBMI IV, bank perlu memiliki modal inti minimal sekitar Rp70 triliun. Karena itu, Permata Bank menilai langkah menuju level tersebut perlu ditempuh melalui pertumbuhan bisnis yang sehat dan penguatan kapital secara berkelanjutan.
“Kami akan terus menjaga pertumbuhan yang sustainable sehingga dari sisi kapitalnya juga bertumbuh dengan sustainable dan harapannya nanti kita mau threshold di Rp70 triliun itu ya untuk bisa naik ke KBMI 4,” kata Rudy.
Ia menegaskan Permata Bank akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam manajemen risiko dalam setiap strategi pertumbuhan yang dijalankan.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita terus menjaga pertumbuhan yang sustainable dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan disiplin risk management yang tepat,” ujarnya. (SA/ZH)