Trader mulai pakai harga bitcoin sebagai indikator arah bursa saham

Minggu, 15 Maret 2026

image

JAKARTA - Pergerakan harga Bitcoin kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah penurunannya ke kisaran US$60.000 dinilai menjadi sinyal awal melemahnya pasar saham global.

Mengutip laporan CoinDesk pada hari Jumat (13/3), sejumlah pelaku pasar menilai aset kripto terbesar di dunia tersebut kerap bertindak sebagai indikator awal (leading indicator) bagi aset berisiko lainnya, termasuk pasar saham.

Meskipun sebagian investor memandang Bitcoin sebagai aset lindung nilai layaknya Gold, sejumlah trader mata uang justru menggunakannya sebagai indikator sentimen pasar global. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, pola tersebut terbukti akurat.

Harga Bitcoin sempat mencapai puncak di atas US$126.000 pada awal Oktober sebelum mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran US$60.000 pada awal bulan lalu.

Penurunan tersebut dipicu oleh arus keluar dana yang signifikan dari ETF spot Bitcoin yang tercatat di Amerika Serikat.

Saat itu, CoinDesk bahkan menyoroti bahwa arus keluar dana tersebut terjadi tanpa adanya pemicu spesifik dari industri kripto, sehingga memunculkan spekulasi bahwa kondisi tersebut bisa menjadi sinyal awal pelemahan makroekonomi dan pasar saham.

Beberapa waktu setelah penurunan tersebut, sentimen pasar global memang memburuk. Ketegangan geopolitik akibat konflik Iran serta lonjakan harga minyak memberikan tekanan pada indeks saham di kawasan Asia dan Eropa.

Di Amerika Serikat, indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq Composite juga mulai mengalami tekanan, sementara indeks dolar AS bergerak menguat. Di sisi lain, harga Bitcoin relatif stabil di kisaran US$70.000.

Menariknya, sejumlah indeks saham dan ETF kini menunjukkan pola pergerakan yang mirip dengan pola perdagangan Bitcoin sebelum mengalami penurunan tajam.

Sebelum jatuh ke fase bearish, Bitcoin sempat bertahan di atas US$100.000 selama beberapa bulan dengan pergerakan volatil dalam rentang harga yang luas.

Pola serupa kini terlihat pada sejumlah instrumen pasar saham, termasuk SPDR Financial Select Sector ETF, indeks saham India Nifty 50, serta kontrak berjangka S&P 500 Futures.

Fenomena Bitcoin sebagai indikator awal bagi pergerakan pasar saham bukanlah hal baru. Dalam beberapa periode sebelumnya, aset kripto tersebut sering kali menunjukkan perubahan tren lebih dulu dibandingkan pasar saham tradisional.

Pada akhir 2021, misalnya, Bitcoin mencapai puncak di sekitar US$60.000 pada November sebelum turun di bawah US$50.000 dalam waktu satu bulan. Penurunan tersebut kemudian berlanjut menjadi pasar bearish sepanjang 2022.

Beberapa bulan setelahnya, tepatnya pada Januari 2022, indeks Nasdaq Composite dan S&P 500 juga mencapai puncaknya sebelum akhirnya mengalami penurunan berkepanjangan seiring kebijakan pengetatan moneter oleh Federal Reserve.

Presiden sekaligus Chief Investment Officer SYKON CapitalTodd Stankiewicz, dalam tulisannya di situs CMT Association menyebut Bitcoin beberapa kali mencapai puncak lebih dulu sebelum indeks S&P 500.

Ia mencatat setidaknya tiga periode penting ketika pola tersebut terjadi, yakni pada akhir 2017, beberapa minggu sebelum kejatuhan pasar saat pandemi COVID-19, serta pada akhir 2021.

Menurutnya, dalam setiap kasus tersebut Bitcoin terlebih dahulu kehilangan momentum atau gagal mencetak rekor harga baru, sementara S&P 500 masih sempat melanjutkan penguatannya.

Namun pada akhirnya, reli saham tersebut terhenti dan berbalik melemah.

Melihat pola tersebut, sejumlah analis menilai pelaku pasar saham perlu mulai memperhatikan pergerakan Bitcoin sebagai salah satu indikator awal untuk membaca arah sentimen pasar ke depan. (BS)