Jepang dan Korsel siap intervensi valas hadapi pelemahan yen dan won

Minggu, 15 Maret 2026

image

JAKARTA - Pemerintah Jepang dan Korea Selatan menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah intervensi guna meredam volatilitas di pasar valuta asing (valas) setelah mata uang kedua negara mengalami pelemahan tajam terhadap dolar AS.

Mengutip laporan Reuters pada Sabtu (14/3), Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, dan Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun-cheol, menyampaikan kekhawatiran atas depresiasi signifikan yang terjadi pada yen Jepang dan won Korea Selatan dalam pertemuan tahunan kedua negara di Tokyo.

Dalam pernyataan bersama, kedua menteri menyebut pelemahan tajam tersebut perlu diwaspadai karena dapat memicu ketidakstabilan di pasar keuangan, khususnya di pasar valuta asing.

Tekanan terhadap mata uang kedua negara terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven sekaligus menekan mata uang negara yang sangat bergantung pada impor energi, termasuk Jepang dan Korea Selatan.

Kedua negara juga menegaskan komitmen untuk terus memantau pergerakan pasar valuta asing serta mengambil langkah yang dianggap perlu apabila volatilitas dinilai berlebihan atau pergerakan nilai tukar berlangsung tidak teratur.

Data pasar menunjukkan yen Jepang sempat menyentuh level terendah dalam 20 bulan pada Jumat lalu dan berada di dekat level 160 per dolar AS.

Level tersebut dipandang oleh pelaku pasar sebagai batas psikologis yang berpotensi memicu intervensi pemerintah Jepang di pasar valas.

Sementara itu, won Korea Selatan pada bulan ini juga menembus level psikologis 1.500 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak Maret 2009.

Katayama menyatakan pemerintah Jepang siap merespons pergerakan nilai tukar kapan pun jika diperlukan. Menurutnya, volatilitas mata uang dapat berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat, terutama di tengah lonjakan harga minyak global.

Meski demikian, sejumlah pembuat kebijakan di Jepang secara internal menilai intervensi untuk menopang yen dalam kondisi saat ini berpotensi kurang efektif.

Hal ini karena permintaan terhadap dolar AS diperkirakan akan terus meningkat apabila konflik geopolitik global masih berlanjut. (BS)