AS kirim 2.500 marinir dan amfibi USS Tripoli, amankan Selat Hormuz?
Senin, 16 Maret 2026

JAKARTA - Amerika Serikat dilaporkan mengirim kapal serbu amfibi USS Tripoli bersama sekitar 2.500 Marinir ke kawasan Selat Hormuz di tengah meningkatnya eskalasi konflik regional.
Seperti dikutip dari BBC pada hari Sabtu (14/3), dua pejabat pemerintah mengonfirmasi kepada CBS News, mitra media Amerika Serikat dari BBC, bahwa penguatan militer tersebut berasal dari kelompok tempur amfibi (amphibious ready group) beserta unit ekspedisi Marinir.
Salah satu pejabat menyebutkan bahwa kelompok tersebut akan dipimpin oleh kapal serbu amfibi yang berbasis di Jepang, USS Tripoli.
Unit yang dipimpin kapal tersebut umumnya terdiri dari sekitar 5.000 personel gabungan pelaut dan Marinir yang tersebar di beberapa kapal perang.
Langkah penguatan militer ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pasukan AS telah “sepenuhnya menghancurkan” infrastruktur militer Iran di Pulau Kharg yang berada di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak global.
Serangan balasan Iran yang menargetkan Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah dilaporkan mengganggu sejumlah pusat penerbangan internasional serta memicu lonjakan harga minyak dunia.
Menanggapi kemungkinan pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa langkah tersebut akan segera dilakukan.
Laporan awal mengenai pergerakan tambahan personel militer AS pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal.
Media tersebut juga melaporkan bahwa permintaan penguatan pasukan diajukan oleh United States Central Command, komando militer AS yang bertanggung jawab atas operasi di kawasan Timur Tengah, dan telah disetujui oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth.
Sementara itu, pemerintah AS juga dilaporkan memindahkan sebagian sistem pertahanan rudal yang sebelumnya ditempatkan di Korea Selatan ke kawasan Timur Tengah.
Informasi tersebut disampaikan oleh sejumlah pejabat kepada The Washington Post dan sejumlah media Korea Selatan.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran akan menghadapi serangan yang sangat keras dalam waktu dekat. Ia juga menambahkan bahwa konflik dengan Iran akan berakhir ketika ia merasa waktunya telah tepat.
Di sisi lain, Hegseth menegaskan bahwa militer AS tidak akan menunjukkan belas kasihan terhadap pihak yang dianggap sebagai musuh negara.
Menurut pernyataan Pentagon, militer AS telah menyerang sekitar 6.000 target di Iran dalam dua pekan pertama konflik.
Konflik tersebut dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Setelah peristiwa tersebut, Iran menunjuk pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin sebelumnya yang kini berusia 56 tahun.
Dalam pidato publik pertamanya pada Kamis, ia menegaskan bahwa Teheran akan terus memblokir Selat Hormuz.
Dalam pernyataan yang disiarkan melalui televisi pemerintah Iran, Mojtaba Khamenei berjanji akan membalas kematian warga Iran akibat konflik dengan AS dan Israel.
Ia juga memperingatkan negara-negara tetangga agar menghentikan dukungan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka.
Apa Motif Amerika?
Pemerintah Amerika Serikat mengirim kapal serbu amfibi USS Tripoli bersama sekitar 2.500 Marinir ke Timur Tengah di tengah meningkatnya konflik dengan Iran.
Menurut laporan nypost (13/3), langkah ini dilakukan setelah ketegangan meningkat di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur penting pengiriman minyak dunia.
Pengiriman pasukan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kehadiran militer AS di kawasan tersebut.
Laporan lain menyebutkan bahwa pengerahan kapal serbu amfibi USS Tripoli dan marinir yang berada di dalamnya menuju Timur Tengah sebagai bagian dari operasi militer yang lebih luas di kawasan tersebut.Selain itu, pemerintah Amerika Serikat juga mempertimbangkan langkah pengamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Pejabat AS, seperti dikutip Reuters, menyatakan Angkatan Laut Amerika dapat mengawal kapal-kapal yang melintas di selat tersebut bersama koalisi internasional ketika kondisi militer memungkinkan, setelah serangan dan ketegangan regional mengganggu lalu lintas kapal dan memicu kenaikan harga energi global. (BS/MT)