Harga BBM California melonjak, perang Iran tekan pasokan energi
Senin, 16 Maret 2026

WASHINGTON - Harga bahan bakar di negara bagian California melonjak jauh lebih tinggi dibanding wilayah lain di Amerika Serikat, seiring dampak perang dengan Iran yang menekan pasokan minyak dan produk energi global.Sejumlah analis memperkirakan harga bensin di California berpotensi menembus US$10 per galon, sementara harga bahan bakar jet telah melonjak sekitar 47% hanya dalam dua minggu terakhir.Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor unik di negara bagian tersebut, mengutip dari Reuters.California menggunakan campuran bensin khusus yang diwajibkan pemerintah dan tidak memiliki jaringan pipa langsung yang menghubungkannya dengan pasar energi di wilayah lain di AS. Akibatnya, wilayah Pantai Barat sangat bergantung pada impor energi dari Asia.Ketergantungan ini menjadi masalah serius setelah gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang kini terdampak konflik Timur Tengah.Ekonom energi Philip Verleger mengatakan Pantai Barat AS berpotensi menjadi wilayah yang paling terdampak oleh konflik tersebut.Menurutnya, pengemudi di California kemungkinan akan menghadapi kekurangan bensin dan solar dalam waktu dekat, dengan harga yang bisa melampaui US$10 per galon, level yang belum pernah terjadi sebelumnya.Dalam sebulan terakhir, harga rata-rata bensin reguler di California telah melonjak lebih dari 18%. Pada Jumat lalu, harga di pompa mencapai sekitar US$5,42 per galon, jauh di atas rata-rata nasional sebesar US$3,63 per galon, menurut data American Automobile Association.Sementara itu, harga bahan bakar jet di Los Angeles, salah satu pusat penerbangan utama di AS, melonjak lebih dari 47% menjadi sekitar US$3,85 per galon sejak konflik Timur Tengah dimulai.California yang dulu merupakan salah satu produsen minyak utama di AS kini semakin bergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar.Hal ini terjadi setelah sejumlah kilang ditutup atau dialihkan untuk memproduksi bahan bakar terbarukan seiring transisi energi.Ketergantungan tersebut membuat wilayah ini semakin rentan terhadap gangguan pasokan global.Krisis minyak Timur Tengah juga memaksa kilang di beberapa negara Asia seperti China, Korea Selatan, dan India mengurangi produksi.Bahkan sebagian perusahaan mengumumkan force majeure yang memungkinkan penghentian sementara pengiriman selama kondisi darurat.Beberapa negara seperti Thailand dan China juga mulai membatasi ekspor bahan bakar guna menjaga pasokan domestik.Data pelacakan kapal menunjukkan Pantai Barat AS tahun lalu mengimpor rekor 128.000 barel per hari bensin dan aditif, sebagian besar berasal dari Korea Selatan dan India.California juga mengimpor sekitar 54.000 barel per hari bahan bakar jet, hampir sepertiganya dari Korea Selatan.Gangguan pasokan dari Timur Tengah memaksa kilang di Pantai Barat mencari sumber minyak alternatif, yang biasanya lebih mahal.Perusahaan energi seperti Chevron dan Marathon Petroleum tercatat sebagai importir minyak mentah terbesar bagi kilang di California pada 2025.Para analis menyebut kilang kemungkinan harus beralih ke minyak dari Kanada atau Amerika Latin, meskipun pasokan dari wilayah tersebut juga terbatas.Salah satu kendala adalah kapasitas Trans Mountain Pipeline di Kanada yang masih terbatas, sehingga hanya sekitar 500.000 barel per hari yang bisa dialirkan ke pasar Pantai Barat.Sementara itu, permintaan dari pembeli Asia juga semakin tinggi, sehingga memicu persaingan global untuk mendapatkan pasokan minyak mentah.Pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini juga mempertimbangkan untuk sementara mencabut aturan pengiriman domestik Jones Act, yang mewajibkan pengiriman minyak antarwilayah AS menggunakan kapal berbendera Amerika.Jika aturan tersebut dilonggarkan, minyak dari Pantai Teluk AS bisa lebih mudah dikirim ke California dan berpotensi meredakan tekanan harga. (DK)