China minta rantai pasok mineral global tetap terbuka

Senin, 16 Maret 2026

image

TIONGKOK - China menyerukan agar rantai pasokan mineral kritis global tetap aman dan stabil serta menentang pembentukan aturan perdagangan yang hanya melibatkan kelompok negara tertentu.Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, pada Jumat menyatakan semua negara perlu berperan konstruktif dalam menjaga keamanan dan stabilitas rantai pasokan mineral penting dunia.Ia juga menegaskan penolakan Beijing terhadap aturan yang dibentuk oleh “kelompok kecil” negara yang dinilai dapat merusak tatanan ekonomi dan perdagangan internasional.Seperti dikutip Globaltimes pernyataan tersebut muncul setelah laporan bahwa Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa tengah menyiapkan kerangka kesepakatan perdagangan baru terkait mineral kritis.Inisiatif itu disebut bertujuan membangun kerja sama pasokan bahan baku penting yang digunakan dalam berbagai industri strategis, termasuk teknologi dan energi bersih.Negosiasi kerangka kerja tersebut dipimpin oleh Office of the United States Trade Representative yang berunding dengan Brussels dan Tokyo.Rencana perjanjian itu disebut mencakup mekanisme harga dasar (price floor) serta tarif untuk bahan mineral tertentu guna menyeimbangkan pasar global.Beberapa analis menilai kebijakan tersebut dapat memicu distorsi baru dalam perdagangan mineral.Peneliti senior di Chinese Academy of International Trade and Economic Cooperation, Zhou Mi, mengatakan mekanisme harga minimum memang dapat mendorong investasi swasta di sektor pertambangan dan pemrosesan, namun tidak otomatis meningkatkan kapasitas produksi maupun kemampuan teknologi pemasok.Direktur Center for China-Europe Relations di Fudan University, Jian Junbo, juga memperingatkan bahwa tarif dan hambatan perdagangan berpotensi meningkatkan biaya pengadaan mineral kritis serta menambah risiko pada rantai pasokan global.Di sisi lain, muncul perbedaan kepentingan di antara negara-negara yang terlibat dalam rencana kerja sama tersebut.Beberapa pihak di Eropa menilai kesepakatan itu bisa memperkuat dominasi Washington dalam akses terhadap mineral penting.Analis kebijakan di European Council on Foreign Relations, Tobias Gehrke, bahkan menyebut pendekatan tersebut tetap mengedepankan prinsip “America First”.Selain itu, sejumlah negara seperti Jepang, Prancis, dan Kanada juga dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi kerja sama alternatif untuk mengamankan pasokan mineral kritis sekaligus mengurangi ketergantungan pada China. (DK)