Pasar fisik Asia tertekan, harga minyak dinilai tak cerminkan krisis

Senin, 16 Maret 2026

image

JAKARTA - Harga minyak mentah berjangka dinilai semakin tidak mencerminkan kondisi pasar fisik, terutama di Asia yang mulai mengalami tekanan pasokan akibat konflik dengan Iran.Harga kontrak berjangka minyak global acuan Brent ditutup di level US$91,98 per barel pada Rabu, naik 4,8% dibanding penutupan sebelumnya.Meski demikian, harga tersebut masih lebih rendah dibanding lonjakan pada 9 Maret yang sempat mencapai US$119,50 per barel, tertinggi dalam hampir empat tahun.Dilansir dari Reuters, sementara itu, pasar fisik menunjukkan kondisi yang jauh lebih tegang.Premi minyak mentah acuan Timur Tengah Dubai crude terhadap harga kertasnya melonjak hingga hampir US$38 per barel, level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.Perbedaan tajam antara harga kontrak berjangka dan pasar fisik ini menunjukkan dua sinyal yang saling bertolak belakang.Pasar berjangka tampak optimistis bahwa pasokan minyak masih dapat melewati dampak konflik Iran, sementara pasar fisik justru memperingatkan potensi krisis pasokan dalam waktu dekat.Sebagian pelaku pasar kertas minyak tampaknya percaya pada pernyataan pemerintah AS, termasuk Presiden Donald Trump, yang menyebut kampanye terhadap Iran berjalan baik dan tidak menimbulkan ancaman serius terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.Optimisme tersebut juga dipengaruhi oleh rencana pelepasan cadangan minyak oleh International Energy Agency sebanyak 400 juta barel, yang diharapkan dapat meredakan gangguan pasokan global.Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup mengatasi masalah di lapangan, terutama bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.Sebelum konflik memanas, sekitar 18 juta hingga 20 juta barel per hari (bph) minyak mentah dan produk energi melewati selat tersebut.Jika jalur ini tetap terhambat, tekanan terhadap rantai pasok diperkirakan akan semakin meningkat.Tanda-tanda gangguan pasokan sudah terlihat di pasar Asia. Premi minyak Dubai terhadap kontrak swap melonjak US$4,17 menjadi US$37,87 per barel, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas ketersediaan pasokan.Berbeda dengan krisis saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, yang sebagian besar hanya memicu perubahan jalur perdagangan, situasi saat ini dinilai lebih serius karena adanya potensi kehilangan pasokan nyata.Upaya pengalihan ekspor minyak dari Teluk ke pelabuhan Laut Merah milik Arab Saudi atau fasilitas Uni Emirat Arab di Teluk Oman dinilai masih belum mampu menutup dampak penutupan Selat Hormuz.Tekanan juga mulai terasa pada pasar produk olahan. Negara-negara pengimpor energi di Asia seperti Australia, Indonesia, dan New Zealand berisiko menghadapi krisis bahan bakar jika pasokan semakin menipis.Sejumlah kilang di Asia mulai menurunkan tingkat pengolahan, sementara China membatasi ekspor bahan bakar guna memastikan pasokan domestik tetap aman.Akibatnya, harga produk olahan melonjak tajam. Premi diesel fisik di Singapore mencapai rekor US$28,69 per barel, melonjak dari hanya 84 sen pada 27 Februari, sehari sebelum serangan udara AS dan Israel terhadap Iran.Kenaikan juga terjadi pada bahan bakar jet. Harga spot kerosin sempat menyentuh rekor US$225,44 per barel pada 4 Maret sebelum turun ke US$157,12 per barel pada Rabu.Meski turun, harga tersebut masih 68% lebih tinggi dibanding level US$93,45 pada 27 Februari.Pergerakan harga di pasar fisik minyak dan produk energi di Asia menunjukkan bahwa rantai pasokan global mulai tertekan, dan kondisi berpotensi memburuk jika negara-negara mulai menimbun minyak mentah dan bahan bakar untuk mengamankan kebutuhan domestik. (DK)