Bitcoin vs Emas: JPMorgan pilih kripto, Goldman tetap di logam mulia
Senin, 16 Maret 2026

JAKARTA - Bitcoin dan emas selama ini dikenal sebagai dua aset penyimpan nilai paling populer di dunia. Keduanya dianggap mampu menjaga nilai ketika pasar keuangan bergejolak.Seperti dikutip Finance Yahoo, namun dalam setahun terakhir, kinerja keduanya bergerak berlawanan arah.Harga emas saat ini diperdagangkan di sekitar US$5.200 per ons, setelah melonjak 77% dalam 12 bulan terakhir.Logam mulia itu bahkan sempat mencetak rekor tertinggi baru di US$5.595 per ons pada Januari.Sebaliknya, Bitcoin berada di kisaran US$70.000, turun sekitar 47% dari rekor tertingginya US$126.000 yang dicapai pada Oktober 2025.Secara konvensional, emas dipandang sebagai penyimpan nilai yang lebih stabil dibanding Bitcoin karena volatilitas kripto jauh lebih tinggi.Namun pandangan tersebut mulai diperdebatkan oleh sejumlah institusi keuangan besar.Dalam analisis terbaru, JPMorgan Chase menyebut volatilitas Bitcoin relatif terhadap emas telah turun ke level terendah dalam sejarah.Hal ini membuat aset kripto tersebut dinilai semakin menarik sebagai investasi jangka panjang.Bank tersebut bahkan menetapkan target harga jangka panjang Bitcoin di US$266.000, meski mengakui pencapaian level tersebut kemungkinan tidak terjadi dalam waktu dekat.Analis kuantitatif JPMorgan, Nikolaos Panigirtzoglou, menyebut volatilitas emas justru meningkat selama reli harga dalam setahun terakhir, sementara volatilitas Bitcoin cenderung menurun.Rasio volatilitas keduanya kini sekitar 1,5, terendah yang pernah tercatat.Menurut JPMorgan, jika volatilitas Bitcoin semakin mendekati emas, maka jumlah investasi yang mengalir ke kedua aset tersebut seharusnya juga semakin seimbang.Saat ini, sekitar US$8 triliun dana sektor swasta tersimpan dalam emas melalui ETF, batangan, dan koin.Agar nilai investasi Bitcoin menyamai angka tersebut, harga kripto itu diperkirakan harus mencapai sekitar US$266.000.Selain itu, Bitcoin kini diperdagangkan di bawah biaya produksinya, yang diperkirakan sekitar US$87.000 per koin bagi para penambang.Dalam siklus sebelumnya, kondisi seperti ini biasanya diikuti oleh pemulihan harga.Kenaikan tajam emas juga dipicu oleh ketegangan geopolitik. Setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, harga emas langsung melonjak lebih dari 2% dalam satu sesi, dari sekitar US$5.100 menjadi di atas US$5.300 per ons.Lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap aman saat konflik global memanas.Sebaliknya, Bitcoin yang kerap dijuluki “emas digital” justru melemah pada hari yang sama, turun dari US$66.000 menjadi US$63.000.Arus dana investor juga menunjukkan tren serupa. ETF Bitcoin mencatat arus keluar bersih sekitar US$3,8 miliar sepanjang 2026, dengan Februari menjadi bulan terburuk sejak produk tersebut diluncurkan pada Januari 2024.Sebaliknya, ETF berbasis emas seperti SPDR Gold Trust dan iShares Gold Trust justru mencatat arus masuk dana baru seiring meningkatnya permintaan investor institusional terhadap emas fisik.Berbeda dengan JPMorgan, Goldman Sachs masih memandang emas sebagai pilihan investasi yang lebih stabil.Bank tersebut menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi US$5.400 per ons, yang masih memberikan potensi kenaikan dari level saat ini.Menurut Goldman, permintaan emas dari bank sentral global tetap kuat. Dalam setahun terakhir, bank sentral sejumlah negara, termasuk China, India, dan Polandia, secara aktif menambah cadangan emas mereka.Selain itu, emas dinilai lebih stabil dibanding Bitcoin. Sepanjang sejarahnya, emas belum pernah mengalami penurunan lebih dari 45% dalam satu periode penurunan besar.Sebaliknya, Bitcoin telah jatuh lebih dari 50% sebanyak empat kali sejak 2017.Bagi Goldman Sachs, konsistensi inilah yang menjadikan emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang yang lebih aman dibanding Bitcoin. (DK)