Sekedar bersenang-senang, Donald Trump akan serang Kharg Island lagi
Senin, 16 Maret 2026

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya bisa kembali menyerang Kharg Island, bahkan “sekadar untuk bersenang-senang”, setelah serangan sebelumnya diklaim menghancurkan sebagian besar fasilitas ekspor minyak di pulau tersebut.Dalam wawancara dengan NBC News pada Sabtu, Trump menyatakan serangan militer AS telah “sepenuhnya meluluhlantakkan” pusat ekspor minyak utama Iran itu.Seperti dikutip Aljazeera, Ia juga memperingatkan bahwa Washington dapat melancarkan serangan tambahan kapan saja.Pernyataan tersebut menandai potensi eskalasi baru, karena sebelumnya Trump menyebut target serangan AS hanya fasilitas militer di pulau itu.Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas energi negaranya.Ia juga mengecam pernyataan Trump yang menyebut kemungkinan serangan dilakukan “untuk bersenang-senang”.Menurut Araghchi, serangan AS terhadap Kharg diluncurkan dari dua lokasi di United Arab Emirates, yakni Ras Al‑Khaimah dan area yang sangat dekat dengan Dubai.Ia menyebut situasi itu berbahaya, namun mengatakan Iran akan berhati-hati agar tidak menyerang wilayah berpenduduk di kawasan tersebut.Sementara itu, Komando Pusat Militer AS menolak mengomentari klaim Iran tersebut. Di pihak lain, penasihat diplomatik Presiden UEA menyatakan negaranya berhak mempertahankan diri namun tetap mengedepankan sikap menahan diri.Ketegangan semakin meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran mengumumkan serangan rudal dan drone ke target di Israel serta tiga pangkalan militer AS di kawasan sebagai tahap awal pembalasan.Di tengah konflik tersebut, kemampuan Iran mengganggu pelayaran di Strait of Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, telah memicu gangguan besar pada pasokan energi global dan mengguncang pasar.Trump juga mendesak negara-negara yang bergantung pada minyak melalui Selat Hormuz untuk mengirim kapal perang guna menjaga jalur pelayaran tersebut, dengan AS siap membantu mengoordinasikan upaya tersebut.Namun analis geopolitik Salman Shaikh menilai banyak negara kemungkinan enggan bergabung dalam koalisi angkatan laut yang dipimpin AS karena risiko konflik yang semakin meluas.Sejak perang yang dilancarkan Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 28 Februari, laporan pemerintah dan media menyebut lebih dari 2.000 orang telah tewas, sebagian besar di Iran. (DK)