4 tahun perang Ukraina, Rusia ubah struktur militer ke model divisi
Senin, 16 Maret 2026

KYIV - Memasuki tahun kelima perang di Ukraina pada Februari lalu, Rusia mulai melakukan perubahan besar dalam organisasi militernya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi medan tempur.Perubahan paling mencolok terjadi pada struktur pasukan darat, yakni peralihan dari konsep battalion tactical group (BTG) ke pendekatan berbasis divisi.Saat melancarkan invasi pada 24 Februari 2022, Rusia mengandalkan BTG, unit tempur semi permanen yang biasanya berisi sekitar 1.000 prajurit lengkap dengan kendaraan mekanis dan artileri sehingga mampu menjalankan operasi gabungan secara relatif mandiri.Seperti dikutip nationalinterest, dalam konsep tersebut, satu BTG secara teori dapat menahan, mengepung, atau mengapit formasi musuh yang lebih besar.Namun efektivitas doktrin ini bergantung pada asumsi bahwa pasukan Rusia memiliki pelatihan, perlengkapan, dan mobilitas yang lebih baik dibanding lawannya.Ketika kualitas pasukan tidak lagi unggul, model ini menjadi kurang efektif.Pada awal invasi, Rusia mengerahkan sekitar 190.000 prajurit reguler dan cadangan, termasuk unit elit seperti pasukan lintas udara dan infanteri marinir.Namun empat tahun kemudian, sebagian besar unit profesional itu telah hancur akibat korban tewas dan luka di berbagai pertempuran di Ukraina.Kehilangan besar tersebut memaksa Rusia merekrut prajurit dengan kualitas lebih rendah, sehingga struktur BTG tidak lagi cocok digunakan.Selain itu, tingginya tingkat kerugian personel dan peralatan membuat militer Rusia meninggalkan model BTG dan beralih ke metode serangan yang lebih sederhana, termasuk penggunaan unit kecil atau serangan infanteri massal terhadap posisi pertahanan Ukraina.Sejauh ini, Rusia diperkirakan telah kehilangan hampir 1,3 juta prajurit tewas dan luka sepanjang konflik.Kondisi ini menciptakan lingkaran masalah: kekurangan pasukan terlatih membuat Kremlin merekrut lebih banyak wajib militer dengan kemampuan terbatas, yang pada akhirnya meningkatkan jumlah korban di medan perang.Sebagai bagian dari pergeseran menuju perang skala besar, Rusia kini merestrukturisasi pasukan daratnya kembali ke konsep divisi.Dalam model ini, divisi menjadi formasi tempur utama dengan dukungan aset organik yang memungkinkan unit tersebut bertempur secara mandiri maupun bersama formasi lain.Pendekatan divisi dinilai memberikan fleksibilitas taktis yang lebih besar di medan perang.Dalam sejarah militer, model ini pernah menunjukkan efektivitasnya, seperti yang diperlihatkan Jenderal Jerman Erwin Rommel saat memimpin divisi tank dalam invasi Battle of France, yang berhasil mengalahkan formasi Prancis yang lebih besar melalui manuver cepat.Meski demikian, kondisi Rusia saat ini berbeda jauh dengan militer Jerman pada era World War II. Selain budaya militer yang berbeda, strategi Rusia yang terus menekan pasukan Ukraina juga membuat Moskow tidak memiliki cukup waktu dan ruang untuk membentuk kembali unit-unit baru sesuai model divisi secara optimal.Akibatnya, pasukan Rusia di garis depan masih menghadapi tingkat korban yang sangat tinggi hampir setiap hari. (DK)