Para miliarder di Timur Tengah mulai pindahkan harta ke Swiss
Senin, 16 Maret 2026

JAKARTA - Sejumlah manajer kekayaan dan penasihat keuangan di Swiss memperkirakan meningkatnya aliran dana dari kawasan Teluk ke Swiss seiring memanasnya konflik di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Mengutip laporan Reuters pada Kamis (13/3), individu dengan kekayaan besar (high-net-worth individuals) mulai mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian aset mereka dari negara-negara Teluk ke Swiss guna mencari perlindungan dari ketidakpastian geopolitik.
Lebih dari selusin bankir dan penasihat keuangan yang secara kolektif mengelola aset senilai lebih dari US$1 triliun menyatakan optimisme bahwa Swiss akan menarik lebih banyak dana dari Timur Tengah, terutama setelah serangan Iran yang menargetkan sejumlah negara di kawasan Teluk.
Selama ini, Switzerland dikenal sebagai salah satu tujuan utama bagi investor global yang mencari stabilitas dan keamanan aset.
Meski menghadapi persaingan dari pusat keuangan di Timur Tengah dan Asia, dana yang ditempatkan oleh individu serta institusi non-bank dari United Arab Emirates di Swiss tercatat meningkat sekitar 40% dalam tiga tahun terakhir.
Kepala Wealth Management di Deloitte Swiss, Patrik Spiller, mengatakan tren tersebut mulai meningkat setelah serangan sebelumnya oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu.
Menurutnya, perkembangan geopolitik terbaru berpotensi semakin mendorong investor Timur Tengah untuk menempatkan asetnya di Swiss.
“Kami mendengar dari bank, family office, hingga individu dengan kekayaan tinggi bahwa diskusi mengenai pemindahan aset ke Swiss sedang berlangsung,” ujar Spiller.
Sementara itu, Swiss Bankers Association (SBA) menyatakan tidak dapat memberikan komentar spesifik terkait arus dana dari Timur Tengah pasca serangan terhadap Iran.
Namun, asosiasi tersebut menegaskan bahwa Swiss telah lama dikenal sebagai lokasi investasi yang menarik bagi investor global.
Kepala Ekonom SBA, Martin Hess, mengatakan stabilitas politik, keamanan, serta kepastian hukum yang dimiliki Swiss menjadi nilai tambah di tengah kondisi global yang tidak menentu.
“Keunggulan ‘Swissness’ seperti stabilitas politik dan kepastian hukum menjadi faktor penting yang sangat dihargai investor, terutama pada masa seperti sekarang,” ujarnya.
Setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, mata uang Swiss, Swiss Franc, bahkan sempat mencapai level tertinggi terhadap euro dalam satu dekade.
Spiller memperkirakan arus dana dari Timur Tengah ke Swiss bisa mencapai puluhan miliar dolar dalam beberapa waktu ke depan.
Namun, ia menegaskan bahwa realisasi arus modal tersebut sangat bergantung pada perkembangan konflik serta durasi perang di kawasan tersebut.
Menurutnya, aliran dana biasanya dimulai dari penempatan kas sebelum kemudian diikuti oleh investasi pada instrumen lain seperti saham dan obligasi.
Bank swasta Swiss, Pictet, yang merupakan salah satu pengelola aset terbesar di negara tersebut, menyatakan telah menerima sejumlah pertanyaan dari nasabah terkait penempatan dana di Swiss.
Meski demikian, perusahaan menilai peningkatan tersebut belum dapat dikategorikan signifikan.
Dalam pernyataannya, Pictet menyebut bahwa aset kelolaan (assets under management/AuM) perusahaan mencapai rekor tertinggi pada akhir tahun lalu dan tren positif tersebut masih berlanjut hingga awal tahun ini.
Chief Investment Officer dari bank swasta berbasis di Zurich, Bergos, Till Budelmann, menilai konflik dengan Iran kembali menempatkan Swiss sebagai destinasi investasi yang menarik, termasuk bagi investor asal Eropa.
Budelmann mengungkapkan bahwa salah satu investor Eropa yang sebelumnya hanya mempertimbangkan membuka rekening di Swiss kini langsung meminta pertemuan untuk memulai proses tersebut setelah konflik pecah.
Meski masih terlalu dini untuk menghitung secara pasti besaran arus dana yang masuk, Budelmann menilai konflik geopolitik saat ini telah memperkuat posisi Swiss sebagai salah satu tujuan utama bagi investor global yang mencari aset safe haven. (BS)