Mercedez Benz bikin mesin mobil listrik 1.000 hp, kalahkan Tesla
Senin, 16 Maret 2026
JAKARTA – Sebuah motor listrik seberat 28 pon (12,7 kilogram) yang mampu menghasilkan lebih dari 1.000 tenaga kuda mungkin terdengar seperti naskah fiksi fiksi ilmiah untuk iklan mobil. Namun, inovasi ini kini telah menjadi kenyataan.
Seperti dikutip thebrighterside (14/03/2026), YASA, sebuah perusahaan motor listrik asal Inggris yang dimiliki oleh Mercedes-Benz dan berbasis di pusat inovasi Oxford, berhasil menciptakan terobosan tersebut.
Hebatnya, ini adalah kali kedua mereka memecahkan batasan teknologi, hanya berselang beberapa bulan setelah pemecahan rekor pertama mereka.
YASA membangun apa yang disebut sebagai motor fluks aksial (axial flux). Ini adalah sebuah desain inovatif yang menumpuk komponen magnetik secara berbeda dibandingkan motor konvensional, sehingga mampu menghasilkan daya yang jauh lebih besar dari dimensi fisik yang jauh lebih kecil.
Pada awal musim panas lalu, YASA telah mencetak rekor dunia tak resmi untuk kepadatan daya dengan motor seberat 13,1 kilogram yang menghasilkan 550 kilowatt (kW).
Kini, mereka kembali ke mesin penguji (dyno) dan mengalahkan rekor mereka sendiri.
Purwarupa baru ini memiliki bobot lebih ringan, yakni 12,7 kilogram, namun mampu menghasilkan daya puncak hingga 750 kW, atau lebih dari 1.000 tenaga kuda.
Angka ini diterjemahkan menjadi kepadatan daya sebesar 59 kW per kilogram, sebuah lonjakan masif sebesar 40 persen dari rekor mereka sebelumnya.
Pendiri sekaligus Chief Technology Officer (CTO) YASA, Tim Woolmer, sangat berterus terang mengenai apa yang sebenarnya telah dibangun oleh perusahaannya.
"Ini bukan sekadar konsep di layar," tegas Woolmer. "Motor ini sedang berjalan, saat ini juga, di atas dyno. Kami telah membangun motor listrik yang kepadatan dayanya jauh lebih tinggi daripada apa pun yang pernah ada sebelumnya, semuanya dengan material dan proses yang dapat diskalakan (scalable)."
Pernyataan ini sangat krusial di industri kendaraan listrik, di mana banyak "terobosan" sering kali hanya sebatas siaran pers atau file desain CAD.
YASA mendeskripsikan objek fisik yang benar-benar menghasilkan data nyata secara real-time. Kepala Teknologi Baru YASA, Simon Odling, sangat ingin menekankan fakta tersebut: "Ini adalah perangkat keras nyata, di kehidupan nyata, yang memberikan data nyata, dan kinerjanya sangat luar biasa."
Meskipun output puncak sebesar 1.000 tenaga kuda menjadi daya tarik utama, performa berkelanjutan (continuous power) dari motor ini menceritakan kisah yang lebih lengkap. Daya berkelanjutan inilah yang sebenarnya menggerakkan kendaraan dari waktu ke waktu, bukan sekadar lonjakan tenaga sesaat.
Motor YASA ini mencatatkan daya berkelanjutan di kisaran 350 hingga 400 kW, atau sekitar 469 hingga 536 tenaga kuda. Kepadatan daya berkelanjutan yang mencapai sekitar 27,6 kW per kilogram ini secara telak mengalahkan angka puncak dari sebagian besar motor listrik pesaingnya.
Untuk memberikan perbandingan yang jelas, berikut adalah performa motor-motor berkepadatan tinggi yang sempat menarik perhatian industri dalam beberapa tahun terakhir:
Sebelum rekor pertama YASA musim panas ini, motor dengan kepadatan daya tertinggi yang diliput pers khusus adalah Evolito D250 (cabang kedirgantaraan yang juga berakar dari garis keturunan fluks aksial YASA) dengan peringkat 28 kW per kilogram.
Pada saat yang sama, firma Inggris Helix menguji motor fluks radial SPX177 mereka—unit seberat 28 kilogram untuk proyek hypercar—yang menyentuh 711 kW (kepadatan sekitar 25,4 kW per kilogram).
Angka terbaru YASA (59 kW per kg) berhasil mengalahkan kedua rekor tersebut lebih dari dua kali lipat.
CEO YASA, Joerg Miska, membingkai kesenjangan ini dengan tajam: "Dengan kepadatan kinerja tiga kali lipat dari motor fluks radial terkemuka saat ini, YASA terus mendefinisikan ulang batasan dari apa yang mungkin dilakukan dalam desain motor listrik."
Perbandingan dengan motor fluks radial ini sangat penting, karena fluks radial adalah arsitektur dominan pada kendaraan listrik produksi massal saat ini, termasuk kendaraan dari Tesla dan sebagian besar pabrikan arus utama lainnya.
Sebagai perbandingan langsung: Tiga motor listrik yang digabungkan dalam Tesla Model S Plaid menghasilkan sekitar 1.020 tenaga kuda. Satu purwarupa YASA seberat 12,7 kilogram ini pada dasarnya mampu menyamai tenaga tersebut sendirian.
Satu poin yang terus diulang dalam pengumuman YASA adalah bahwa motor ini tidak menggunakan material eksotis atau material yang harganya sangat mahal.
Ini adalah sindiran tajam terhadap beberapa program motor performa tinggi lainnya, di mana biaya dan kemampuan manufaktur sering kali diabaikan dan dianggap sebagai masalah yang akan diselesaikan nanti.
YASA mendeskripsikan desainnya sebagai sesuatu yang dapat diskalakan, dibangun di atas rekayasa presisi, manajemen termal tingkat lanjut, dan optimalisasi kemasan—bukan dari durian runtuh material tanah jarang (rare-earth) atau teknik fabrikasi sekali pakai.
Proyek ini juga mendapat dukungan dari Advanced Propulsion Centre di Inggris, yang memberikannya dukungan kelembagaan di luar ambisi satu perusahaan semata.
Meskipun Mercedes-Benz telah mengonfirmasi akan menggunakan motor fluks aksial YASA pada mobil super-GT AMG listrik mereka yang akan datang, YASA menolak memberikan garis waktu kasar kapan arsitektur purwarupa ini akan diproduksi secara massal untuk konsumen.
Motor ini secara eksplisit tidak dirancang hanya sebagai latihan pengembangan ala Formula 1 (seperti Helix SPX177), yang mengindikasikan bahwa YASA memiliki visi jangka panjang agar teknologi ini bisa diproduksi secara luas.
Bagi industri otomotif secara luas, arsitektur motor dengan kepadatan tinggi yang tidak bergantung pada material eksotis ini mewakili daya ungkit yang sangat nyata.
Motor yang lebih kecil dan lebih ringan berarti memberikan fleksibilitas luar biasa dalam desain kendaraan. Pabrikan kini bisa memasang beberapa motor sekaligus ke dalam satu platform tanpa harus menanggung penalti bobot ekstrem.
Jika arsitektur ini terbukti dapat diproduksi secara massal pada skala yang diklaim YASA, maka kesenjangan antara kepadatan daya kelas hypercar dan perangkat keras kendaraan produksi massal akan menyusut secara drastis dalam beberapa tahun mendatang. (SF)