Ditarik dari Timur Tengah, kapal penyapu ranjau AS muncul di Malaysia

Senin, 16 Maret 2026

image

JAKARTA – Dua kapal tempur pesisir Angkatan Laut Amerika Serikat yang memiliki kemampuan penyapu ranjau, USS Tulsa dan USS Santa Barbara, terdeteksi berada di Malaysia setelah sebelumnya ditempatkan di Timur Tengah.

Dikutip dari twz.com, kedua kapal tersebut terlihat di North Butterworth Container Terminal, Pelabuhan Penang. Sebelumnya, keduanya ditempatkan di Bahrain untuk menggantikan kapal pemburu ranjau kelas Avenger yang telah dipensiunkan.

Kemunculan kapal-kapal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti setelah sejumlah kapal komersial diserang. Ancaman ranjau laut di jalur pelayaran strategis tersebut juga menjadi perhatian serius.

Hingga kini Angkatan Laut AS belum menjelaskan alasan pemindahan kedua kapal tersebut ke kawasan Pasifik. Media pertahanan TWZ menyebut telah meminta keterangan dari Komando Pusat AS (CENTCOM), Armada Kelima, Angkatan Laut AS, dan Komando Indo-Pasifik AS, namun belum memperoleh penjelasan resmi.

Data pelacakan militer menunjukkan USS Tulsa masih berada di pelabuhan Bahrain hingga 9 Februari, sementara USS Santa Barbara terlihat beroperasi di Teluk Persia pada 30 Januari. Setelah itu, tidak ada indikasi kapal perang AS berada di pelabuhan Manama sejak 23 Februari, beberapa hari sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari.

Penarikan kapal perang dari Bahrain dinilai sebagai langkah keamanan. Fasilitas militer AS di Manama berada dalam jangkauan rudal dan drone Iran, dan sejumlah serangan dilaporkan telah menargetkan fasilitas tersebut.

Namun pemindahan kapal penyapu ranjau ke Malaysia juga berarti sebagian kapasitas operasi pembersihan ranjau Angkatan Laut AS di Timur Tengah berkurang. USS Tulsa, USS Santa Barbara, dan USS Canberra sebelumnya ditempatkan di kawasan itu untuk menutup kekosongan setelah empat kapal penyapu ranjau kelas Avenger dipensiunkan.

Empat kapal tersebut—USS Devastator, USS Dextrous, USS Gladiator, dan USS Sentry—telah meninggalkan kawasan Teluk pada Januari. Saat ini hanya empat kapal Avenger yang masih aktif, dan semuanya ditempatkan di Jepang.

Kapal kelas Independence seperti USS Tulsa dan USS Santa Barbara dilengkapi paket misi penanggulangan ranjau yang mencakup sonar pencari ranjau, drone laut Common Unmanned Surface Vehicle (CUSV), serta sistem deteksi ranjau yang dioperasikan helikopter MH-60 Seahawk.

Meski demikian, efektivitas kapal Littoral Combat Ship (LCS) sebagai pengganti kapal penyapu ranjau khusus masih menjadi perdebatan. Kapal kelas Avenger dirancang khusus untuk misi tersebut dengan lambung kayu berlapis fiberglass guna mengurangi risiko memicu ranjau berbasis magnet.

Sejumlah laporan juga menyoroti kendala teknis pada sistem penyapu ranjau LCS, termasuk waktu persiapan drone yang relatif lama serta keterbatasan sensor dalam mendeteksi ranjau.

Situasi ini menjadi perhatian di tengah laporan bahwa Iran berpotensi menanam ranjau di sekitar Selat Hormuz. Militer AS menyatakan sedang menargetkan aset penebar ranjau Iran, sementara ancaman dari rudal anti-kapal, drone kamikaze, dan kapal tak berawak bersenjata juga meningkat.

Pejabat AS sebelumnya mengatakan kapal perang Amerika kemungkinan belum akan mengawal kapal komersial melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat. Operasi konvoi semacam itu membutuhkan dukungan militer besar serta kemampuan pembersihan ranjau yang memadai.

Hingga kini belum diketahui berapa lama USS Tulsa dan USS Santa Barbara akan berada di Malaysia, maupun apakah kapal penyapu ranjau lain akan dikirim kembali ke Timur Tengah. (DH)