Perang Iran dan defisit APBN seret IHSG jadi indeks terburuk

Senin, 16 Maret 2026

image

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat kinerja terburuk di antara negara emerging Asia, dengan penurunan 1,61% atau 114,9 poin ke 7.022,92 pada perdagangan Senin (16/3) hari ini.

Total transaksi di seluruh pasar mencapai Rp15,98 triliun, masih di bawah rata-rata transaksi harian di bursa pekan lalu yang mencapai Rp24 triliun.

Mayoritas indeks sektoral melemah hingga penutupan, namun tiga sektor terpantau menguat: sektor keuangan, industri, dan layanan kesehatan.

Dari jajaran saham LQ45, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) memimpin dengan kenaikan harga saham 10,28%. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mencatat kenaikan harga saham 7,03% dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik 3,63%.

Analis Phintraco Sekuritas menyebut pelemahan IHSG hari ini akibat kekhawatiran investor, terhadap dampak kenaikan harga minyak mentah yang berpotensi memperlebar defisit APBN. Di sisi lain, investor juga disebut khawatir dengan nilai tukar rupiah yang terus melemah.

“Selain itu menjelang libur panjang membuat investor cenderung bersikap hati-hati,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor sore ini.

Di antara seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 180 saham mencatat kenaikan harga. Sedangkan 541 saham melemah dan 99 saham stagnan.

Dari bursa negara emerging Asia lain, IHSG mencatat penurunan paling dalam. PSEi hanya turun 0,86%, SET turun 0,19%, KLCI turun 0,13% dan MSCI ex-Japan melemah 0,6%.

Tiga indeks saham terpantau menguat dipimpin oleh Hang Seng yang mencapai 1,45%. KOSPI menguat 1,14% dan NIFTY naik 1,06%.

Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah melemah 0,23% ke Rp16.997 per dolar AS. Baht dan peso Filipina juga menyusul pelemahan rupiah, sedangkan rupe India hingga won Korea terpantau menguat sejalan dengan koreksi pada indeks dolar AS (DXY). (KR)