Pemerintah India minta Iran izinkan 22 kapal lewati Selat Hormuz

Selasa, 17 Maret 2026

image

JAKARTA - India meminta jalur aman kepada pemerintahIran bagi 22 kapalnya yang terjebak di sebelah barat Selat Hormuz setelah Iran memberlakukan pembatasan lalu lintas kapal di jalur pelayaran strategis tersebut.

Dikutip Reuters, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal mengatakan pemerintah terus berkomunikasi dengan sejumlah pihak di Timur Tengah, termasuk negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Iran, Amerika Serikat, dan Israel, untuk menyampaikan kepentingan India, khususnya terkait keamanan energi.

Iran sebelumnya memberikan pengecualian dengan mengizinkan beberapa kapal India melintasi Selat Hormuz. Duta Besar Iran untuk India Mohammad Fathali mengonfirmasi langkah tersebut dalam forum yang disiarkan oleh India Today di New Delhi.

Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran, Teheran sebagian besar menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Jalur ini merupakan rute penting bagi perdagangan energi global karena sekitar 20% pasokan minyak dunia dan gas alam cair yang diangkut melalui laut melewati kawasan tersebut.

Blokade tersebut memicu krisis pasokan gas di India. Pemerintah terpaksa mengurangi distribusi gas bagi sektor industri untuk memastikan pasokan gas memasak bagi rumah tangga tetap tersedia.

Kementerian Perkapalan India menyebut kapal yang terjebak mencakup empat kapal pengangkut minyak mentah, enam kapal pengangkut LPG, dan satu kapal LNG.

Sekretaris khusus Kementerian Perkapalan, Rajesh Kumar Sinha, mengatakan dua kapal India, Shivalik dan Nanda Devi, yang disewa oleh Indian Oil Corp, telah berhasil melintasi Selat Hormuz. Kedua kapal tersebut dijadwalkan tiba di pelabuhan Mundra dan Kandla pada 16 dan 17 Maret.

Kedua kapal itu membawa lebih dari 92.000 metrik ton LPG. Di sisi lain, India juga berupaya membangun kesepahaman di antara negara-negara anggota BRICS mengenai posisi bersama terkait konflik di Timur Tengah.

India saat ini memegang posisi ketua kelompok tersebut yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan serta telah diperluas dengan bergabungnya Iran dan beberapa negara lain.(DH)