Selat Hormuz ditutup, AS kehabisan cara tahan lonjakan harga minyak
Selasa, 17 Maret 2026

NEW YORK - Amerika Serikat semakin kehabisan cara untuk meredam guncangan pasar minyak akibat perang dengan Iran yang terus berkecamuk.Dilansir dari Reuters, berkurangnya pasokan minyak dari Timur Tengah meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global yang lebih dalam jika permintaan energi mulai melemah.Memasuki minggu ketiga perang antara AS dan Israel melawan Iran, sekitar 15% pasokan minyak dunia masih terperangkap di kawasan Teluk setelah penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi ekspor energi global, menurut perhitungan Reuters.Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dunia berupaya mengalihkan hingga 5 juta barel per hari ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.Uni Emirat Arab juga menambah pengiriman minyak melalui terminal Fujairah.Meski demikian, sekitar 15 juta barel per hari pasokan minyak Timur Tengah masih terhambat masuk ke pasar global, gangguan yang belum pernah terjadi sejak era setelah Perang Dunia II.Krisis ini mendorong harga minyak Brent melonjak di atas US$100 per barel.Harga bahan bakar olahan seperti diesel dan avtur bahkan naik lebih tajam karena kekhawatiran akan kekurangan pasokan yang berkepanjangan.Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.Namun ia menyebut negara tertentu masih dapat mengoordinasikan pergerakan kapal dengan angkatan laut Iran.Washington mengakui Angkatan Laut AS saat ini belum mampu membuka kembali jalur tersebut secara paksa.Meski AS telah menawarkan jaminan finansial untuk mengasuransikan kapal dari risiko perang guna mendorong pelayaran kembali, sebagian besar perusahaan pelayaran masih enggan mengambil risiko.Presiden Donald Trump juga meminta sekutu untuk mengirim kapal perang guna mengamankan Hormuz bersama AS, tetapi operasi semacam itu diperkirakan baru bisa terlaksana dalam beberapa minggu.Dalam krisis sebelumnya, pasar biasanya bergantung pada kapasitas produksi cadangan negara-negara anggota OPEC+ untuk menambah pasokan.Namun opsi ini terbatas karena sebagian besar kapasitas cadangan juga berada di Timur Tengah.Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan sebelum perang terdapat sekitar 3,9 juta barel per hari kapasitas cadangan, termasuk sekitar 1,7 juta barel per hari di Arab Saudi.Pemerintahan Trump telah menggunakan hampir semua instrumen yang tersedia untuk meredakan tekanan pasar.Washington bahkan mengeluarkan izin sementara bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang sedang berada di laut selama 30 hari. (DK)