Dolar menguat, harga emas turun di bawah US$5.000 per troi ons
Selasa, 17 Maret 2026

JAKARTA - Harga emas turun pada Senin (16/3), tergelincir di bawah level US$5.000 per troi ons di tengah lemahnya permintaan terhadap logam mulia tersebut selama konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.Biasanya dianggap sebagai aset lindung nilai saat krisis geopolitik, emas justru berkinerja lebih lemah sejak konflik Timur Tengah pecah.Seperti dikutip Investing, hal ini dipicu penguatan dolar AS serta berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga karena lonjakan harga minyak meningkatkan tekanan inflasi.Harga emas spot turun 0,6% menjadi US$4.989,34 per ons pada pukul 12:57 ET, sementara kontrak berjangka emas melemah 1,3% ke US$4.996,19 per ons. Harga perak spot juga turun 0,3% menjadi US$80,36 per ons.Ketegangan Iran menunjukkan sedikit tanda mereda setelah AS dan Israel menyerang terminal ekspor penting Iran pada akhir pekan, yang memicu ancaman pembalasan keras dari Teheran.Harga minyak tetap bertahan di atas US$100 per barel setelah laporan bahwa sejumlah sekutu AS, terutama negara-negara dalam NATO, enggan menanggapi seruan Presiden Donald Trump untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran membuat sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia terganggu, sehingga mendorong lonjakan harga energi global.Analis dari ANZ menyebut emas tertekan oleh penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga dari Federal Reserve.Selain itu, likuidasi posisi oleh trader untuk memenuhi margin call juga ikut menekan harga logam mulia tersebut.Meski demikian, ANZ menilai peran emas sebagai aset lindung nilai terhadap risiko geopolitik masih tetap kuat.Sepanjang 2026, harga emas masih naik sekitar 16%. Sementara itu, analisis dari Deutsche Bank menunjukkan perak menjadi aset dengan kinerja terburuk di antara 30 aset utama sejak konflik dimulai, sedangkan emas berada di peringkat keenam belas terburuk.Menurut analis Deutsche Bank Jim Reid, logam mulia biasanya menguat saat pasar menghindari risiko.
Namun kali ini tekanan muncul karena serangan militer membuat investor mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral, bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga di beberapa negara.Perhatian pasar kini tertuju pada pertemuan dua hari Federal Reserve yang akan berakhir pada Rabu.Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga di level saat ini di tengah ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga energi akibat perang Iran. (DK)