Bursa asia menguat, pasar hitung dampak geopolitik dan lonjakan migas

Selasa, 17 Maret 2026

image

JAKARTA - Pasar saham Asia menguat pada awal perdagangan Selasa, memperpanjang kenaikan hari kedua di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah dan agenda padat bank sentral pekan ini.

Dikutip Reuters, investor terus menghitung dampak ekonomi dari konflik antara Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump dan Iran, serta potensi respons kebijakan moneter global.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,9%, didorong lonjakan 2,4% pada Kospi Korea Selatan. Nikkei 225 Jepang ikut menguat 0,3%, sementara kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3%.

Di Wall Street, S&P 500 naik 1,0% pada Senin dan menghentikan tren penurunan empat hari, ditopang saham sektor kecerdasan buatan. Meski begitu, indeks masih berada sekitar 3% di bawah posisi sebelum konflik pecah.

"Reli ini masih terasa sebagai dorongan posisi (positioning squeeze), bukan awal tren baru," kata Chris Weston, Kepala Riset Pepperstone Group di Melbourne. "Saya masih enggan membeli saat harga turun pada tahap ini."

Harga minyak Brent naik 2,7% ke US$102,89 per barel setelah sejumlah sekutu AS menolak permintaan pengawalan tanker di Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi global.

Fokus pasar juga tertuju pada keputusan suku bunga bank sentral. Bank Sentral Australia dijadwalkan mengumumkan kebijakan terbaru, dengan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi 4,1%.

Langkah tersebut akan menjadi pembuka rangkaian rapat bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Japan, yang diperkirakan mempertahankan suku bunga sambil mengevaluasi dampak konflik terhadap ekonomi global.

Bank for International Settlements mengingatkan agar pembuat kebijakan tidak bereaksi berlebihan terhadap lonjakan harga energi akibat konflik, dan menyarankan untuk melihatnya sebagai guncangan pasokan sementara.

Pasar memperkirakan peluang 99,1% bahwa Federal Reserve akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan ini.

"Komite Pasar Terbuka Federal kemungkinan menunda tindakan hingga jelas apakah dampak utama terjadi pada output atau inflasi," kata Steve Englander dari Standard Chartered.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,236%, sementara indeks dolar AS menguat tipis 0,1%.

Yen Jepang melemah mendekati level 160 per dolar, meski otoritas setempat telah memberi peringatan. Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda menyatakan inflasi inti bergerak menuju target 2%. Di pasar komoditas dan kripto, harga emas naik tipis 0,1%, bitcoin menguat 2,0%, dan ether naik 0,7%.(DH)