Rupiah tertekan dekati Rp17.000/US$, Purbaya: Tanyakan ke BI saja
Selasa, 17 Maret 2026

JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku tidak mengetahui penyebab pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan bahwa penjelasan mengenai pergerakan mata uang merupakan kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
“Saya enggak tahu itu kenapa melemah. Anda harus tanyakan ke bank sentral kalau (soal) rupiah. Anda tanya yang betul ke bank sentral apa yang terjadi. Kenapa Anda tanya ke saya?” ujar Purbaya di Kantor Kemenko Perekonomian, dikutip bisnis.com senin (16/3).
Berdasarkan data Bloomberg L.P., pada penutupan perdagangan Senin (16/3/) pukul 15.00 WIB rupiah melemah 0,23% ke posisi Rp16.997 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat turun 0,11% ke level 100,25.
Purbaya menegaskan bahwa kebijakan terkait stabilitas nilai tukar merupakan tanggung jawab bank sentral. Karena itu, ia memilih tidak memberikan komentar lebih jauh agar tidak mencampuri kewenangan otoritas moneter.
"Karena tanggung jawab bank sentral hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar. Kalau saya ngomong kan nanti bahaya. Nanti kebijakan bank sentral. Saya enggak ngerti itu. Jadi harus tanya ke Bank Sentral," tegasnya.
Ia juga menolak anggapan bahwa pelemahan rupiah mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang melemah. Menurutnya, aktivitas ekonomi Indonesia saat ini justru menunjukkan kinerja yang kuat.
"Kalau ekonominya lagi lari, lagi lari kencang, makin kencang, harusnya fundamentalnya baik. Kalau normal, rupiah harusnya menguat. Jadi Anda tanya ke bank sentral kenapa melemah," tutup Purbaya.(DH)