Iran Izinkan sejumlah kapal melewati Selat Hormuz

Selasa, 17 Maret 2026

image

TEHERAN - Di tengah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, Teheran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi sebagian negara, kecuali bagi AS dan sekutunya.Seperti dikutip Aljazeera, jalur laut strategis ini dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dunia.Pada 2 Maret, Penasihat Senior Garda Revolusi Iran (IRGC) Ebrahim Jabari menyatakan selat tersebut “ditutup” dan memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintas dapat diserang oleh militer Iran.Pernyataan itu memicu lonjakan harga minyak global hingga menembus US$100 per barel, dari sekitar US$65 sebelum perang.Harga minyak mentah patokan global Brent crude tercatat naik 2,5% menjadi US$105,70 per barel pada Senin, lebih dari 40% lebih tinggi dibanding sebelum konflik yang dimulai 28 Februari.Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan sejumlah negara telah meminta jalur aman bagi kapal mereka.Menurutnya, keputusan izin melintas berada di tangan militer Iran, dan beberapa kapal dari berbagai negara telah diizinkan lewat meski tanpa rincian resmi.Sebuah tanker Aframax berbendera Pakistan bernama Karachi dilaporkan berhasil keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz pada Minggu.Duta Besar Iran untuk India Mohammad Fathali mengatakan Teheran mengizinkan beberapa kapal India melintas.Pemerintah India kemudian mengonfirmasi dua tanker LPG berbendera India yang menuju pelabuhan di India barat telah melewati selat tersebut dengan aman.Menteri Transportasi Turkiye Abdulkadir Uraloglu menyebut satu kapal milik perusahaan Turki diizinkan melintas setelah memperoleh izin dari Iran. Kapal itu sebelumnya sempat menunggu bersama sekitar 15 kapal lain di dekat perairan Iran.China dilaporkan sedang berdiskusi dengan Iran agar kapal pengangkut minyak mentah dan LNG, termasuk gas dari Qatar, dapat melintas dengan aman.China menerima sekitar 45% pasokan minyaknya melalui Selat Hormuz. Prancis dan Italia juga disebut meminta pembicaraan dengan Iran untuk memungkinkan kapal mereka melewati jalur tersebut.Presiden AS Donald Trump mengusulkan pembentukan koalisi angkatan laut untuk menjaga keamanan Selat Hormuz bersama Angkatan Laut AS.

Ia berharap negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris ikut mengirim kapal perang.Namun, hingga kini belum ada negara yang berkomitmen bergabung. Bahkan Jerman dan Yunani menyatakan tidak akan terlibat dalam operasi militer di Selat Hormuz selama perang masih berlangsung. (DK)