Sekutu Amerika abaikan permintaan Trump bantu buka Selat Hormuz

Rabu, 18 Maret 2026

image

JAKARTA - Sejumlah sekutu Amerika Serikat menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz. Negara-negara Eropa menyatakan tidak akan terlibat dalam langkah militer di tengah konflik dengan Iran.

“Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya,” kata Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius, dikutip nbcnews.

Sikap tersebut mencerminkan posisi banyak negara Eropa yang enggan terseret ke konflik yang telah memasuki pekan ketiga. Iran sebelumnya menutup jalur tersebut sebagai respons atas serangan AS dan Israel, memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap ekonomi global.

Trump mendesak negara-negara pengguna jalur Hormuz untuk ikut bertanggung jawab membuka kembali akses tersebut. Ia juga memperingatkan masa depan NATO jika sekutu tidak memberikan dukungan.

Namun, sejumlah negara menolak secara terbuka. Spanyol menegaskan tidak akan mendukung langkah sementara untuk membuka selat. “Spanyol tidak akan pernah menerima langkah sementara apa pun” untuk menjaga selat tetap terbuka, kata Menteri Pertahanan Margarita Robles, “karena tujuan utamanya adalah mengakhiri perang, dan mengakhirinya sekarang.”

Italia juga menahan diri. Menteri Luar Negeri Antonio Tajani menyatakan bahwa “diplomasi harus diutamakan.” Inggris mengambil posisi lebih hati-hati. Perdana Menteri Keir Starmer menyebut upaya membuka kembali jalur pelayaran perlu dilakukan bersama sekutu, tetapi menegaskan tidak akan masuk ke konflik yang lebih luas.

“Kami harus membuka kembali Selat Hormuz untuk memastikan stabilitas pasar. Itu bukan tugas yang mudah,” ujarnya. Di luar Eropa, Jepang dan Australia juga tidak berencana mengirim kapal. Usulan Uni Eropa untuk memperluas mandat misi angkatan laut ke Hormuz juga belum mendapat dukungan.

Penolakan ini menambah ketegangan antara Washington dan sekutu tradisionalnya. Sejumlah pihak menilai permintaan Trump sulit diterima secara politik, terutama di tengah kritik terhadap kebijakan luar negeri AS sebelumnya.

“Agak berlebihan setelah Anda mengancam Denmark dan meremehkan sekitar 1.000 tentara NATO yang bertempur di Afghanistan lalu meminta mereka membantu sekarang,” kata mantan Presiden Estonia Toomas Hendrik Ilves.

Ia menambahkan, “Jika negara mengirim pasukan dan terjadi sesuatu, apakah dia akan mengejek mereka lagi?” “Itu tidak akan diterima secara politik sejak awal. Saya tidak yakin apa yang dia harapkan,” ujarnya.

Eropa menilai solusi utama tetap pada penghentian konflik, bukan keterlibatan militer tambahan. “Jawaban Eropa harus: cara menyelesaikan masalah adalah mengakhiri perang, bukan ikut serta di dalamnya,” kata Sven Biscop.

Sementara itu, Gedung Putih menegaskan sekutu perlu berkontribusi karena mereka juga menikmati perlindungan dari kekuatan militer AS. Di sisi lain, Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi negara tertentu, dan hanya menutup akses bagi pihak yang dianggap musuh. “Dari perspektif kami, Selat Hormuz terbuka, dan hanya tertutup bagi musuh,” tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.(DH)