Selat Hormuz tutup, importir genjot jalur alternatif

Rabu, 18 Maret 2026

image

JAKARTA - Importir di kawasan teluk, mempercepat pencarian jalur alternatif untuk menjaga pasokan barang penting setelah penutupan efektif Selat Hormuz mengganggu akses pelabuhan utama.

Dikutip Reuters, gangguan pelayaran akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya menekan ekspor minyak, tetapi juga memaksa perubahan cepat dalam rantai pasok impor, terutama untuk makanan, obat-obatan, dan bahan industri.

"Harga pasokan akan naik cukup drastis," kata Ronan Boudet dari Kpler. "Pengiriman darat dari pelabuhan mana pun ke Dubai kemungkinan berkali-kali lipat lebih mahal dibanding angkutan laut."

Data Kpler, menunjukkan 81 kapal kontainer semula menuju pelabuhan di dalam Selat Hormuz sebelum konflik. Setelah perang pecah, 43 kapal mengalihkan rute ke pelabuhan lain di Teluk, sementara sisanya keluar dari kawasan.

Ketergantungan tinggi pada impor membuat pasokan pangan menjadi sektor paling rentan. Sekitar 70% makanan kawasan Teluk sebelumnya melewati Selat Hormuz menuju pelabuhan utama seperti Jebel Ali di Dubai.

Sejumlah kargo kini dialihkan ke pelabuhan alternatif seperti Fujairah dan Khor Fakkan di UEA serta Sohar di Oman, lalu dikirim melalui jalur darat. Namun kapasitas pelabuhan tersebut terbatas, memicu kemacetan dan memperpanjang waktu distribusi.

"Kami menangani barang mudah rusak," kata Christophe Belloc dari Interfel. "Kami bisa menahan keterlambatan 15 hari, tapi tidak lebih."

Lonjakan permintaan logistik darat mendorong peningkatan operasional. Perusahaan TruKKer menaikkan kapasitas pengiriman truk dari 60 menjadi 500 perjalanan per hari. Biaya logistik juga naik 5% hingga 15% untuk rute tertentu akibat kenaikan harga bahan bakar dan kompleksitas pengiriman lintas negara.

Risiko tetap tinggi meski menggunakan jalur alternatif. Sejumlah pelabuhan di luar Selat Hormuz juga menghadapi ancaman keamanan, termasuk Fujairah di UEA serta Duqm dan Salalah di Oman.

Untuk menjaga ketersediaan barang, sebagian peritel mulai beralih ke pengiriman udara. Lulu Retail mengangkut sedikitnya 160 ton produk segar melalui jalur udara dan menyiapkan tambahan pengiriman.

Meski gangguan logistik meningkat, pasokan belum terganggu secara signifikan. Uni Emirat Arab memastikan cadangan strategis masih cukup untuk memenuhi kebutuhan selama empat hingga enam bulan.

Operator pelabuhan DP World, menyatakan pelaku industri mulai mengalihkan distribusi melalui India dan Pakistan sebelum masuk ke Teluk, serta meningkatkan aktivitas di pelabuhan Laut Merah.

"Kami sudah memiliki jalur rel dan darat untuk memastikan semua komoditas penting tetap bisa masuk ke UEA," kata Yuvraj Narayan. "Ada banyak pengalihan rute yang terjadi."(DH)