Rupiah turun 1,2% sejak Maret, BI: Tak sedalam rupee, baht

Rabu, 18 Maret 2026

image

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah terdepresiasi atau melemah lebih dari 1% sejak awal Maret hingga 17 Maret 2026.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan penurunan itu tidak lepas dari konflik di kawasan Timur Tengah, yang membuat gangguan pengiriman minyak mentah di Selat Hormuz—jalur vital bagi 20% minyak global.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Senin dan Selasa (16-17/3) kemarin, kata Perry, bank sentral juga telah melakukan perhitungan atas segala kemungkinan yang timbul akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Perry menyampaikan durasi terjadinya perang itu, akan berdampak langsung terhadap indikator ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.

Dengan lonjakan harga minyak mentah di pasar global akibat konflik tersebut, lanjut Perry, pertumbuhan ekonomi global menjadi lebih landai. “Akan membawa pertumbuhan ekonomi global lebih rendah, inflasi global akan lebih akan lebih tinggi,” jelas Perry, dalam konferensi pers yang digelar Selasa (17/3) kemarin.

Perry menambahkan bahwa Indonesia telah merasakan dampak dari pasar global, merespons perang di Timur Tengah. Salah satunya pada keluarnya modal asing dari negara emerging market seperti Indonesia, yang akhirnya membuat nilai tukar mata uang seperti rupiah melemah terhadap dolar AS.

“Kami akan terus mengalibrasi optimalitas antara kebijakan intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, kecukupan cadangan devisa, dan juga respons dengan menahan suku bunga,” ungkap Perry.

Dalam kesempatan yang sama, Perry juga menegaskan bahwa BI dalam pertemuan bulan ini tidak lagi menyampaikan adanya ruang pemangkasan suku bunga lanjutan, agar pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tak berlanjut.

Sementara itu Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mencatat rupiah bukan satu-satunya mata uang yang menghadapi depresiasi akibat perang AS dan Iran.

“Sekarang ini emerging market itu semua mata uang terpuruk,” kata Destry. “Di sepanjang bulan Maret ini saja rupiah memang terdepresiasi 1,2%.

Namun pelemahan rupiah, menurut Destry, tidak sedalam negara emerging market lain seperti rupee India yang melemah 1,52%, peso Filipina yang turun 3,71%, dan baht Thailand turun 4,47%.

“Jadi artinya kita di kawasan ini memang menghadapi permasalahan yang sama,” ungkap Destry.

Menurut data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.997 per lembar hingga penutupan perdagangan Selasa, setelah sempat menembus Rp17.000 per dolar AS. (KR)