Tanker Rusia hanyut, negara Eropa waspadai bencana ekologi

Rabu, 18 Maret 2026

image

JAKARTA – Sembilan negara Eropa, termasuk Italia dan Prancis, mendesak Komisi Eropa untuk segera mengambil tindakan darurat terkait sebuah kapal tanker liquefied natural gas (LNG) asal Rusia yang kini terombang-ambing tanpa arah di perairan Mediterania.

Seperti dikutip reuters.com (17/03/2026), kapal bermuatan bahan bakar tersebut dinilai menghadirkan ancaman ekologi yang “segera dan serius” bagi kawasan tersebut.

Berdasarkan surat resmi yang dikirimkan oleh negara-negara Uni Eropa (UE) kepada Komisi Eropa, kapal bernama Arctic Metagaz itu dilaporkan hanyut di perairan antara Malta dan Italia.

Keberadaan kapal ini menghadirkan “tantangan ganda” yang sangat pelik: Eropa harus menjaga keselamatan maritim dan mencegah bencana ekologi massal, namun di saat yang sama harus tetap menegakkan sanksi ketat UE yang dijatuhkan terhadap Rusia.

Kondisi fisik kapal yang rentan, ditambah dengan muatannya yang sangat spesifik dan berbahaya, dinilai berisiko memicu bencana lingkungan berskala besar tepat di jantung ruang maritim Uni Eropa.

Pihak UE sebelumnya telah mengidentifikasi kapal ini sebagai bagian dari “Shadow Fleet” (Armada Bayangan) Rusia, sebuah taktik maritim yang digunakan Moskow untuk mengakali sanksi ekonomi imbas invasi ke Ukraina pada 2022.

Ironisnya, tindakan penyelamatan standar—seperti pengawasan, pemantauan, atau dukungan teknis maritim lainnya—justru dikhawatirkan dapat merusak integritas dan efek jera dari rezim sanksi Eropa itu sendiri.

Merespons krisis yang memanas ini, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengonfirmasi bahwa kapal tersebut kini dalam keadaan tidak berawak.

Dalam pernyataan di situs resmi kementerian, ia mengungkapkan bahwa kapal tersebut sedang membawa 700 metrik ton berbagai jenis bahan bakar serta “sejumlah besar gas alam”. Moskow mengklaim terus menjalin kontak dengan pemilik kapal dan otoritas asing terkait.

Namun, Zakharova secara diplomatis melimpahkan beban penyelamatan kepada negara-negara Eropa. Ia berargumen bahwa berdasarkan norma hukum internasional yang berlaku, tanggung jawab untuk menyelesaikan situasi kapal hanyut dan mencegah bencana lingkungan berada di tangan negara-negara pesisir.

“Keterlibatan lebih lanjut dari pemilik kapal dan Rusia sebagai negara bendera akan sangat bergantung pada keadaan tertentu,” tulis Zakharova, mengisyaratkan keengganan Moskow untuk turun tangan secara langsung.

Nasib dan kondisi sebenarnya dari Arctic Metagaz saat ini masih diselimuti oleh klaim internasional yang saling bertentangan. Awal bulan ini, Kementerian Transportasi Rusia menuding bahwa kapal yang membawa LNG dari pelabuhan Arktik Murmansk itu telah diserang oleh naval drones (drone laut) Ukraina yang diluncurkan dari pesisir Libya.

Di sisi lain, badan maritim Libya pada 4 Maret lalu justru mengeluarkan laporan berbeda yang menyebutkan bahwa kapal tersebut telah tenggelam di perairan antara Libya dan Malta setelah mengalami kebakaran hebat sehari sebelumnya.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Kyiv di Ukraina belum mengklaim tanggung jawab apa pun atas dugaan serangan maritim tersebut. (SF)