China kembangkan baterai sodium-ion, kurangi dominasi lithium
Rabu, 18 Maret 2026

TIONGKOK - Saat banyak negara masih berupaya mengejar ketertinggalan dalam produksi baterai lithium-ion, China justru melangkah lebih jauh dengan mengembangkan teknologi baru: baterai sodium-ion.Seperti dikutip Reuters, teknologi ini digadang-gadang dapat mengubah rantai pasok baterai global.Berbeda dengan lithium yang bergantung pada pasokan terbatas dari beberapa negara, sodium jauh lebih melimpah dan bahkan bisa diekstraksi dari air laut.Selain itu, baterai sodium memiliki keunggulan seperti pengisian lebih cepat dan kinerja yang lebih stabil di suhu rendah.Selama ini, meski China unggul dalam produksi baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak menggunakan nikel atau kobalt, ketergantungan pada lithium masih tinggi.Sekitar 60% bahan baku lithium yang diolah China pada 2024 berasal dari impor, terutama dari Australia dan Amerika Selatan.Menurut laporan International Renewable Energy Agency, sodium sekitar 1.000 kali lebih melimpah di kerak bumi dibanding lithium, bahkan 60.000 kali lebih banyak di lautan.Hal ini membuat baterai sodium-ion dinilai lebih tahan terhadap risiko rantai pasok dan fluktuasi harga bahan baku.Lonjakan harga lithium sejak 2021, dipicu pandemi COVID-19 dan tingginya permintaan kendaraan listrik, mendorong produsen China mencari alternatif.Kini, China sudah melangkah ke tahap produksi massal baterai sodium-ion, baik untuk kendaraan listrik maupun penyimpanan energi skala besar.Produsen baterai terbesar dunia, CATL, berencana memproduksi massal baterai sodium-ion bernama Naxtra tahun ini.Teknologi tersebut juga akan digunakan pada kendaraan listrik melalui kerja sama dengan produsen mobil seperti Li Auto dan Chang’an Automobile.Selain itu, CATL juga akan mengintegrasikan baterai sodium ke dalam jaringan penukaran baterai Choco-Swap, yang memungkinkan pengguna kendaraan listrik mengganti baterai hanya dalam hitungan menit.Pemain besar lainnya, BYD, juga agresif berinvestasi dan diperkirakan segera mampu memproduksi hingga 50 gigawatt-jam baterai sodium per tahun.Di sisi lain, perusahaan rintisan seperti HiNa Battery Technology turut meramaikan industri ini dengan memproduksi baterai untuk mobil listrik hingga skuter.Meski menjanjikan, baterai sodium-ion tidak sepenuhnya akan menggantikan lithium-ion.Salah satu kelemahannya adalah kepadatan energi yang lebih rendah, sehingga baterai cenderung lebih besar dan berat untuk kapasitas yang sama.Saat ini, harga baterai sodium-ion juga masih lebih mahal dibanding lithium-ion, meski diperkirakan akan turun seiring peningkatan produksi.
Pasar truk berat menjadi salah satu target utama, karena tidak terlalu bergantung pada kepadatan energi.
Selain itu, baterai sodium memiliki keunggulan signifikan di suhu ekstrem, bahkan mampu beroperasi hingga -40 derajat Celsius, serta dapat terisi penuh dalam waktu sekitar 20 menit.Dengan berbagai keunggulan tersebut, baterai sodium-ion diperkirakan akan menjadi pelengkap penting bagi teknologi lithium-ion, sekaligus membuka babak baru dalam industri energi global. (DK)