Drone Interceptor Ukraina jadi incaran negara Teluk
Rabu, 18 Maret 2026

KYIV - Drone pencegat buatan Ukraina mulai menarik perhatian negara-negara Teluk, seiring meningkatnya ancaman serangan drone di kawasan Timur Tengah.Seperti dikutip Reuters, dikembangkan oleh perusahaan swasta Wild Hornets, drone interceptor ini awalnya dianggap konsep ambisius.Namun kini, teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam pertahanan Ukraina melawan drone Rusia, dan berpotensi digunakan untuk menghadapi drone Iran di Teluk.Pemerintah di Kyiv menyebut Amerika Serikat dan sekutunya mulai melirik teknologi ini untuk menghadapi serangan drone Shahed yang semakin intens di Timur Tengah.Meski begitu, Wild Hornets menegaskan belum akan mengekspor produknya tanpa persetujuan resmi pemerintah Ukraina.Salah satu produk andalannya, STING, menawarkan solusi murah dibanding sistem pertahanan udara mahal seperti MIM-104 Patriot.Drone ini mampu melesat hingga 280 km/jam dengan jangkauan sekitar 37 km, dan dirancang untuk mengejar serta menghancurkan target dengan tabrakan berkecepatan tinggi.Teknologi ini juga relatif mudah dioperasikan. Pilot drone FPV hanya membutuhkan beberapa hari pelatihan untuk menguasainya.Sejak mulai digunakan secara luas pada Juni 2025, STING diklaim telah menjatuhkan lebih dari 3.000 drone Shahed milik Rusia.Produksinya pun mencapai lebih dari 10.000 unit per bulan, dengan harga sekitar US$2.000 per unit, jauh lebih murah dibanding drone Shahed yang bernilai US$20.000 hingga US$50.000.Wild Hornets juga telah mengembangkan generasi kedua yang lebih cepat dan dirancang untuk menghadapi drone jet yang lebih canggih, meski detail teknisnya dirahasiakan.Sejak pecahnya konflik Iran pada akhir Februari, negara-negara Teluk dilaporkan menghadapi lebih dari 2.000 serangan drone dan rudal yang menyasar berbagai target, mulai dari fasilitas minyak hingga kawasan sipil.Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan negaranya siap membantu negara Timur Tengah, dengan imbalan dukungan dana dan teknologi.Ia juga mengungkapkan bahwa tim spesialis pertahanan udara telah dikirim ke kawasan tersebut.Namun, Ukraina menegaskan fokus utamanya tetap pada kebutuhan dalam negeri. Ekspor drone interceptor hanya akan dilakukan jika mendapat persetujuan pemerintah, terutama jika Ukraina juga memperoleh tambahan sistem pertahanan dari sekutu Barat.Meski permintaan dari luar negeri terus berdatangan, produsen saat ini memilih menahan diri sambil memprioritaskan kebutuhan militer domestik. (DK)