Pertama kali dalam sejarah, Divisi Seluler Samsung terancam merugi
Rabu, 18 Maret 2026

JAKARTA – Kesuksesan peluncuran seri smartphone kelas atas terbaru rupanya tidak selalu berbanding lurus dengan kesehatan finansial perusahaan.
Seperti dikutip sammobile.com (16/03/2026), Divisi Seluler Samsung, yang dikenal sebagai Samsung MX, kini terancam mencatatkan kerugian untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Ironisnya, ancaman krisis ini datang tepat setelah angka prapemesanan (pre-order) untuk seri Galaxy S26 mereka dilaporkan memecahkan rekor dan berhasil meraih pertumbuhan penjualan dua digit di berbagai pasar global.
Krisis profitabilitas yang kontradiktif ini utamanya dipicu oleh lonjakan ekstrem pada harga komponen dasar.
Berdasarkan laporan dari media lokal FNNews, harga memory chip (cip memori) di pasaran telah meroket hingga 8,5 kali lipat atau sekitar 850 persen selama setahun terakhir. Kenaikan biaya produksi yang sangat tajam ini praktis menggerus margin keuntungan Samsung MX hingga ke titik nadir.
Pada tahun lalu, divisi ini masih sanggup membukukan laba operasi (operating profit) sebesar 12,9 triliun won (sekitar US$8,62 miliar). Namun, angka tersebut diproyeksikan anjlok drastis menjadi hanya sekitar 5 triliun won (US$3,34 miliar) pada tahun ini.
Margin laba (profit margin) divisi seluler yang sempat bertengger di angka 11 persen pada kuartal pertama 2025, kini diprediksi merosot ke level 3 persen. Beberapa sumber internal bahkan memperingatkan bahwa sekadar mempertahankan margin 1 persen saja di tahun 2026 akan menjadi tantangan yang teramat berat.
Menghadapi realitas finansial yang suram ini, manajemen pusat Samsung Electronics secara resmi telah menetapkan status mode darurat (emergency mode) untuk divisi Samsung MX.
Kebijakan ketat ini menyusul langkah serupa yang sebelumnya telah diterapkan pada divisi peralatan rumah tangga (Digital Appliances) dan divisi layar/TV (Visual Display).
Dengan demikian, seluruh bisnis di bawah payung pengalaman perangkat atau Device Experience (DX) Samsung kini resmi beroperasi di bawah manajemen krisis. Kedua divisi pendahulu tersebut bahkan diperkirakan akan kembali mencetak kerugian gabungan sekitar 200 miliar won (US$133 juta) tahun ini, stagnan dengan kinerja buruk di tahun sebelumnya.
Sebagai langkah mitigasi darurat, Samsung telah menginstruksikan pemangkasan pengeluaran operasional secara paksa sebesar 30 persen di seluruh lini bisnisnya.
Efisiensi agresif ini mencakup wacana mutasi penugasan sejumlah karyawan, hingga dorongan bagi beberapa staf senior untuk segera mengambil opsi pensiun dini (early retirement). Perusahaan juga memberlakukan kebijakan perjalanan dinas yang jauh lebih ketat demi menekan beban biaya.
Sebelumnya, para eksekutif Samsung DX di bawah level wakil presiden (vice president) masih diizinkan terbang menggunakan kelas bisnis (business class). Namun di bawah aturan baru, mereka kini diwajibkan untuk terbang menggunakan kelas ekonomi (economy class) untuk seluruh rute penerbangan yang berdurasi di bawah 10 jam.
Tekanan margin yang sangat berat akibat melambungnya harga komponen silikon ini nyatanya tidak hanya memukul raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut.
Para analis industri memperkirakan bahwa situasi serupa juga sedang melanda sebagian besar merek smartphone global lainnya, menyeret para pesaing utama seperti Honor, OPPO, Vivo, dan Xiaomi ke dalam jurang krisis profitabilitas yang sama di tahun ini. (SF)