Perkuat keamanan, negara Teluk incar teknologi anti-drone Eropa

Rabu, 18 Maret 2026

image

TEHERAN - Serangan drone Iran yang semakin sering terjadi di kawasan Teluk, termasuk di Uni Emirat Arab, mendorong kebutuhan mendesak akan sistem pertahanan udara yang lebih efektif.Kondisi ini berpotensi membuka aliran investasi besar dari negara-negara Teluk ke startup teknologi pertahanan di Eropa, termasuk yang berbasis di Ukraina.Konflik yang berlangsung memang membawa dampak negatif bagi Eropa, terutama karena terbatasnya pasokan sistem pertahanan canggih seperti rudal Patriot yang sebagian besar diproduksi Amerika Serikat.Seperti dikutip Reuters, lonjakan permintaan global membuat negara-negara Eropa harus bersaing dalam antrean panjang untuk mendapatkan sistem tersebut.Namun, di sisi lain, sektor drone dan teknologi anti-drone justru berkembang pesat. Ratusan startup bermunculan di Eropa, didukung oleh dana ventura, dengan sejumlah perusahaan seperti Helsing dan Stark mencapai valuasi tinggi.Banyak di antaranya telah menguji teknologi mereka di medan perang Ukraina, yang kini menjadi laboratorium nyata inovasi pertahanan.Meski demikian, kapasitas produksi industri pertahanan, khususnya di Ukraina, masih belum optimal.Produsen lokal diperkirakan baru memanfaatkan sebagian dari potensi produksi, karena fokus utama masih pada kebutuhan domestik di tengah perang.Di Eropa secara umum, proses pengadaan juga dinilai masih lambat, sehingga sejumlah startup berisiko kesulitan pendanaan meski memiliki teknologi menjanjikan.Dalam konteks ini, masuknya pesanan dari negara-negara kaya Teluk seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi bisa menjadi penyelamat.Negara-negara tersebut menghadapi ancaman langsung dan membutuhkan solusi cepat.Dengan dukungan dana besar dari sovereign wealth fund mereka, investasi ke teknologi pertahanan Eropa menjadi langkah logis.Selain itu, pendekatan yang lebih hemat biaya juga menjadi pertimbangan. Selama ini, penggunaan rudal mahal untuk menembak jatuh drone murah dinilai tidak efisien.Karena itu, solusi seperti interceptor berbiaya rendah yang dikembangkan di Ukraina dan Eropa, yang mampu menghadapi serangan drone secara massal, diperkirakan akan semakin diminati oleh negara-negara Teluk. (DK)