Mayoritas bank jual dolar di atas Rp17.000, tertinggi Rp17.300
Rabu, 18 Maret 2026

JAKARTA – Mayoritas bank terbesar di Indonesia menjual dolar Amerika Serikat (AS) di atas level Rp17.000 pada perdagangan Rabu, dengan harga tertinggi mencapai Rp17.300.
Data Bloomberg menunjukkan nilai tukar rupiah di pasar spot berada di kisaran Rp16.920 pada pukul 12.00 WIB, sementara kurs jual mayoritas bank berada di atas level tersebut dengan spread atau selisih yang bervariasi.
Spread kurs jual bank terhadap harga di pasar spot berkisar antara 60 hingga 380 poin, bervariasi untuk setiap bank dan jenis transaksi.
Berikut rincian kurs terbaru USD/IDR per bank berdasarkan data yang dihimpun IDNFinancials.com dari masing-masing bank:
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
· e-Rate: beli 16.915, jual 17.085
· TT Counter: beli 16.850, jual 17.150
· Bank Notes: beli 16.842, jual 17.142
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
· Special Rate: beli 16.950, jual 16.980
· TT Counter: beli 16.740, jual 17.040
· Bank Notes: beli 16.740, jual 17.040
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
· Special Rate: beli 16.898, jual 17.103
· TT Counter: beli 16.845, jual 17.145
· Bank Notes: beli 16.845, jual 17.145
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
· e-Rate: beli 16.838, jual 17.139
· TT Counter: beli 16.820, jual 17.160
PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)
· TT Counter: beli 16.800, jual 17.300
· Bank Notes: beli 16.800, jual 17.300
Acuan atau Referensi Visa
· Kurs: 17.325,72
· Fee: 2%
· Selisih vs ECB: +2,17%
Seperti disampaikan IDNFinancials.com sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menghadapi tekanan dan turun sekitar 1,2% sejak awal Maret 2026.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan itu akibat eskalasi konflik di timur tengah, yang akhirnya mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia dan inflasi global.
Tekanan ini tak hanya dirasakan oleh rupiah, namun juga mata uang negara lain. Terutama negara-negara emerging market seperti Filipina, India, dan Thailand.
Menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah, BI terus melanjutkan intervensi lewat operasi terbuka di pasar domestik dan offshore, serta menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75%. (KR)