Standard Chartered: Harga minyak diprediksi tetap tinggi lebih lama
Rabu, 18 Maret 2026

JAKARTA - Analis dari Standard Chartered memperkirakan harga minyak global akan bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya, seiring konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda.Pada Senin, para menteri luar negeri Uni Eropa menolak permintaan Presiden AS Donald Trump untuk membantu mengamankan Selat Hormuz melalui jalur militer.Seperti dikutip Oilprice, Eropa lebih memilih memperkuat keamanan pangkalan militernya sendiri di kawasan.Sebelumnya, Wakil Presiden Komisi Eropa Kaja Kallas mengusulkan perluasan mandat Operation Aspides guna meningkatkan keamanan pelayaran di kawasan tersebut.Misi militer ini diluncurkan pada 2024 untuk melindungi jalur perdagangan di Laut Merah dan sekitarnya.Namun, para pemimpin Eropa enggan terseret lebih jauh ke dalam konflik.Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menegaskan bahwa perang ini bukan milik Eropa dan mempertanyakan efektivitas keterlibatan armada Eropa dibanding kekuatan Angkatan Laut AS.Di tengah situasi tersebut, Standard Chartered menaikkan proyeksi harga rata-rata minyak Brent untuk 2026 menjadi US$85,50 per barel dari sebelumnya US$70, serta untuk 2027 menjadi US$77,50 per barel.Meski demikian, harga diperkirakan akan berangsur turun secara bertahap sepanjang 2026.Gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah diperkirakan memangkas produksi global sebesar 7,4 hingga 8,2 juta barel per hari.Penurunan terjadi di sejumlah negara seperti Irak, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, serta Iran.Bank tersebut juga menilai pasokan tambahan sulit meningkat dalam waktu dekat karena jalur ekspor alternatif selain Selat Hormuz telah dimaksimalkan.Sementara itu, Arab Saudi meningkatkan kapasitas pipa Timur-Barat untuk menjaga aliran minyak ke Laut Merah.Di sisi lain, International Energy Agency telah melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, terbesar sepanjang sejarah, guna meredam lonjakan harga.Meski membantu pasokan jangka pendek, langkah ini dinilai bisa menciptakan tekanan baru karena kebutuhan pengisian ulang cadangan di masa depan.Untuk gas alam, harga di Eropa tetap tinggi setelah gangguan besar pasokan LNG.Serangan drone terhadap fasilitas energi Qatar menghentikan produksi LNG oleh QatarEnergy, memangkas kapasitas global secara signifikan.Penutupan jalur tanker di Selat Hormuz turut mengganggu sekitar 20% pasokan LNG dunia.Kondisi ini memaksa negara-negara besar di Asia seperti China, Jepang, dan Korea Selatan untuk beralih ke batu bara dan energi nuklir demi menjaga ketahanan energi mereka. (DK)