S&P: Potensi dana keluar dari perbankan Teluk sekitar US$307 miliar

Kamis, 19 Maret 2026

image

JAKARTA - S&P Global Ratings memperingatkan bank-bank di kawasan Teluk berpotensi menghadapi arus keluar dana simpanan domestik hingga US$307 miliar jika konflik Timur Tengah semakin dalam.

Dikutip Reuters, S&P dalam laporannya menyatakan belum melihat adanya arus keluar signifikan, baik dari dana asing maupun domestik. Sistem perbankan kawasan ini dinilai masih menunjukkan ketahanan sejak perang pecah bulan lalu.

Namun, risiko meningkat jika konflik berlarut. S&P menilai kondisi tersebut dapat memicu perpindahan dana ke bank yang dianggap lebih aman dalam sistem yang sama, sekaligus mendorong keluarnya dana dari kawasan.

Skenario dasar S&P memperkirakan fase paling intens perang AS–Israel melawan Iran berlangsung dua hingga empat minggu. Meski begitu, dampak lanjutan dan insiden keamanan dinilai berpotensi berlangsung lebih lama.

Konflik yang kini memasuki minggu ketiga telah mengganggu pasar energi dan transportasi global, termasuk serangan di sejumlah negara Teluk seperti Dubai.

Tekanan juga dirasakan sektor perbankan. Sejumlah bank internasional membatasi layanan langsung di Uni Emirat Arab setelah ancaman dari IRGC terhadap pusat ekonomi dan bank yang terkait dengan AS dan Israel.

Bank menyatakan layanan kepada nasabah tetap berjalan melalui kanal digital, meski sempat terjadi gangguan operasional.

Amazon Web Services melaporkan serangan drone pada awal Maret terhadap fasilitasnya di Uni Emirat Arab dan Bahrain yang mengganggu layanan cloud dan TI, sehingga sebagian nasabah bank sempat kehilangan akses.

S&P mencatat sejumlah bank telah menyiapkan pusat data dan fasilitas cadangan di luar kawasan untuk menjaga operasional. “Secara keseluruhan, risikonya tampak terkendali,” kata S&P.

Dalam skenario tekanan, arus keluar dana simpanan domestik di enam negara anggota GCC diperkirakan mencapai US$307 miliar berdasarkan data akhir 2025.

Perbankan kawasan saat ini memiliki bantalan likuiditas sekitar US$312 miliar dalam bentuk kas atau simpanan di bank sentral, serta tambahan sekitar US$630 miliar dari aset likuid.

S&P menilai empat dari enam negara GCC memiliki dukungan kuat terhadap sektor perbankan, sementara regulator meningkatkan pengawasan sejak konflik dimulai.

Bank ritel di Bahrain dinilai lebih rentan akibat kenaikan utang eksternal. Bank sentral Uni Emirat Arab menyatakan sektor perbankan tetap beroperasi normal. Permintaan kredit juga meningkat seiring belanja pemerintah di sektor pariwisata dan infrastruktur.

Data bank sentral menunjukkan total aset perbankan UEA naik 17,1% menjadi 5,34 triliun dirham pada 2025. Kredit tumbuh hampir 18% dan simpanan naik sekitar 16%. S&P menilai dampak penuh terhadap kualitas kredit masih akan terlihat ke depan, dengan sektor logistik, transportasi, pariwisata, properti, ritel, dan perhotelan paling terdampak.

Dalam skenario tekanan tinggi, kerugian kumulatif pada 45 bank terbesar di kawasan diperkirakan mencapai sekitar US$37 miliar. S&P menilai bank-bank GCC memasuki periode tekanan ini dengan posisi relatif kuat, serupa dengan saat menghadapi pandemi COVID-19, dan memperkirakan respons regulator akan kembali menopang sektor jika kondisi memburuk.(DH)