USS Tripoli dikerahkan ke Timur Tengah, gantikan kapal induk AS
Kamis, 19 Maret 2026

WASHINGTON - Kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat kembali bergerak ke Timur Tengah di tengah situasi kawasan yang memanas, meski salah satu supercarrier andalannya harus menepi akibat insiden.Seperti dikutip Yahoo, dua dari 11 kapal induk bertenaga nuklir milik United States Navy telah beroperasi di Timur Tengah sejak bulan lalu.Namun, pada Selasa dilaporkan bahwa USS Gerald R. Ford (CVN-78) sedang menuju pangkalan Naval Support Activity Souda Bay di Kreta untuk menjalani perbaikan setelah kebakaran di ruang laundry.Insiden tersebut ternyata lebih parah dari laporan awal. Api membutuhkan waktu berjam-jam untuk dipadamkan dan menyebabkan kerusakan asap hingga ke area tempat tinggal awak kapal.Akibatnya, kekuatan supercarrier AS di kawasan berkurang sementara waktu, termasuk untuk mendukung operasi militer yang sedang berlangsung.Meski demikian, kapal “flattop” lainnya sudah dalam perjalanan.Kapal serbu amfibi kelas America, USS Tripoli (LHA-7), terpantau memasuki Selat Malaka dekat Singapura dan diperkirakan membutuhkan lebih dari dua minggu untuk mencapai Timur Tengah.Berbeda dengan kapal induk nuklir, USS Tripoli tidak memiliki peran utama sebagai penguasa udara.Namun kapal ini membawa kekuatan tempur signifikan, termasuk unit 31st Marine Expeditionary Unit yang beranggotakan sekitar 2.200 personel dari Okinawa, Jepang.Unit ini merupakan pasukan reaksi cepat yang mampu menjalankan berbagai misi, mulai dari evakuasi hingga operasi amfibi seperti serangan dan penggerebekan dari laut ke darat.Mereka juga bisa mendukung operasi khusus serta pengerahan pasukan darat dalam skala terbatas.Sebelumnya, USS Tripoli beroperasi di Laut Filipina bersama USS San Diego dan USS New Orleans. Namun belum jelas apakah kedua kapal tersebut ikut menuju Timur Tengah.Meski mampu membuka jalur pendaratan atau melakukan serangan cepat, unit ekspedisi marinir seperti ini tidak dirancang untuk menguasai wilayah dalam jangka panjang.Salah satu skenario yang mungkin adalah operasi terbatas di jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.Secara ukuran, USS Tripoli bahkan lebih besar dibanding banyak kapal induk milik negara lain, dengan bobot sekitar 45.000 ton.Kapal ini dapat membawa hingga 20 jet tempur F-35B Lightning II, serta pesawat MV-22 Osprey dan helikopter MH-60S.Angkatan Laut AS juga tengah mengembangkan konsep “lightning carrier”, di mana kapal amfibi seperti USS Tripoli dapat melengkapi peran kapal induk konvensional dalam proyeksi kekuatan militer di wilayah konflik.Konsep ini pernah diuji dalam latihan Exercise Valiant Shield bersama kapal induk kelas Nimitz seperti USS Abraham Lincoln dan USS Ronald Reagan. (DK)