Pasokan terganggu, harga aluminium dekati level tertinggi

Kamis, 19 Maret 2026

image

JAKARTA - Bukan hanya minyak, konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran kini turut mengguncang pasar aluminium global.Seperti dikutip Cnbc, gangguan pasokan di Timur Tengah membuat harga logam dasar ini melonjak signifikan.Meski aluminium merupakan salah satu logam paling melimpah di bumi, perannya sangat vital bagi perekonomian dunia.Material ini digunakan luas dalam industri elektronik, transportasi, konstruksi, hingga energi surya dan kemasan.Sejak konflik pecah pada 28 Februari, harga aluminium berjangka tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak hingga 10% pada 12 Maret, sebelum akhirnya bertahan di kisaran kenaikan 8%.Lonjakan ini dipicu terganggunya jalur pasokan akibat penutupan efektif Selat Hormuz.Dalam dua pekan terakhir, aluminium menjadi logam industri dengan kinerja terbaik. Harganya kini mendekati level tertinggi dalam empat tahun, yakni sekitar US$3.370 per ton di London.Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah produsen aluminium terbesar dunia, Aluminium Bahrain (Alba), memangkas produksi hingga 19% dari total kapasitas tahunannya sebesar 1,6 juta ton.Kondisi ini memperbesar potensi kekurangan pasokan global.Lembaga riset CRU Group memperkirakan harga aluminium berpotensi menembus US$4.000 per ton jika gangguan pasokan terus berlanjut dan stok tetap rendah.Namun, analis mencatat bahwa lemahnya permintaan global saat ini masih menahan lonjakan harga lebih tinggi.Konflik yang berkepanjangan dinilai dapat mengubah prospek pasar sepanjang tahun, baik dari sisi pasokan maupun permintaan.Di sisi lain, arah harga selanjutnya sangat bergantung pada China sebagai produsen aluminium terbesar dunia.Negara tersebut selama ini membatasi produksi sekitar 45,5 juta ton per tahun demi menekan emisi dan mencegah kelebihan kapasitas.Namun, jika harga dianggap terlalu tinggi, China dapat kembali mengaktifkan smelter yang tidak beroperasi dan membanjiri pasar global dengan pasokan.Meski harga tengah naik, aluminium diperkirakan tidak akan menjadi instrumen favorit investor ritel seperti perak atau tembaga.Partisipasi investor masih terbatas, dengan sebagian pelaku pasar justru meningkatkan posisi jual, mencerminkan ekspektasi bahwa harga bisa kembali melemah ke depan. (DK)