Samsung: Industri chip memasuki 'siklus super'
Kamis, 19 Maret 2026

JAKARTA - Samsung Electronics memperkirakan permintaan chip tetap kuat pada 2026, didorong ekspansi kecerdasan buatan (AI). Namun, lonjakan harga chip memori berisiko menekan pengiriman komputer dan ponsel.
Dikutip Reuters, Co-CEO Samsung Jun Young-hyun mengatakan perusahaan mulai menggeser skema kontrak dengan pelanggan utama menjadi jangka panjang tiga hingga lima tahun untuk meredam fluktuasi siklus industri.
Samsung juga memperkuat posisinya dalam rantai pasok AI. Jun menyebut perusahaan menjadi mitra penting Nvidia dalam infrastruktur AI. Pada konferensi GTC, CEO Nvidia Jensen Huang, mengumumkan kemitraan foundry dengan Samsung dan memuji chip HBM4.
Jun menilai industri chip memasuki 'siklus super' yang belum pernah terjadi sebelumnya seiring lonjakan investasi pusat data AI. Meski begitu, ia mengingatkan risiko gelembung AI dan kendala pasokan listrik yang membatasi ekspansi data center.
[[ Catatan: Siklus super adalah periode panjang (biasanya beberapa tahun) di mana permintaan suatu industri naik sangat kuat dan konsisten, jauh di atas siklus normal. ]]
Industri chip sedang masuk fase permintaan luar biasa panjang karena:
Ledakan AI (ChatGPT, model AI, dll)
Ekspansi data center
Kebutuhan GPU & memori canggih (HBM
Di sisi lain, jelas Jun, tingginya permintaan chip AI memicu ketatnya pasokan global, berdampak pada sektor otomotif hingga elektronik konsumen. Kondisi ini mendorong kenaikan harga dan mengangkat kinerja produsen memori.
Saham Samsung melonjak 62% sejak awal tahun, melampaui kenaikan pasar Korea Selatan. Kinerja tersebut ditopang kelangkaan chip memori, bersama dua pemain utama lain, SK Hynix dan Micron Technology.
Setelah sempat tertinggal dalam pengembangan chip AI tahun lalu, Samsung kini mulai mengejar ketertinggalan, khususnya pada teknologi high bandwidth memory (HBM).
“Keadaan tidak bisa lebih baik lagi,” kata pemegang saham Oh Bong-gyu, merujuk pada saham Samsung. “Namun saya sedikit khawatir tentang serikat pekerja Samsung dan bebannya terhadap manajemen.”
Ancaman mogok kerja juga menjadi perhatian. Serikat pekerja berencana melakukan aksi pada Mei di tengah tuntutan kenaikan gaji. Manajemen mengakui daya saing upah sempat tertinggal, namun menyebut bonus kinerja mulai pulih seiring perbaikan bisnis chip.(DH)