Pelayaran Hormuz tertahan, negara teluk alihkan ekspor minyak via pipa
Kamis, 19 Maret 2026

TEHERAN - Iran masih menahan hampir seluruh arus pelayaran di Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi lintasan sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global.Dengan jalur ini praktis tersendat, negara-negara Teluk mulai mengalihkan ekspor melalui jaringan pipa yang tidak melewati selat tersebut.Menurut International Energy Agency, pengiriman lewat rute alternatif sudah berjalan dan terus meningkat, mengutip dari Reuters.Arab Saudi mempercepat aliran minyak melalui pipa East-West menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sementara Uni Emirat Arab meningkatkan ekspor lewat pipa Habshan-Fujairah yang terhubung ke pelabuhan Fujairah di Teluk Oman.Peralihan Arab Saudi ke Laut Merah kini menunjukkan lonjakan signifikan.Laporan pasar minyak Maret IEA mencatat aliran di pipa East-West melonjak dari rata-rata 1,7 juta barel per hari pada 2025 menjadi rekor 5,9 juta barel per hari pada 9 Maret, dan diperkirakan segera mencapai kapasitas penuh 7 juta barel per hari.UEA juga mencatat tren serupa. Aliran melalui pipa Habshan-Fujairah rata-rata mencapai 1,8 juta barel per hari pada awal Maret, menyentuh kapasitas maksimum, naik dari sekitar 1 juta barel per hari sebelum krisis.Di tengah upaya negara Teluk mencari jalur alternatif, Iran tetap mengekspor minyak sekitar 1,1 hingga 1,5 juta barel per hari, berdasarkan data TankerTracker.com dan Kpler.Sementara itu, Donald Trump menyatakan pasukan AS telah menyerang Pulau Kharg, pusat sekitar 90% ekspor minyak Iran, dan menghancurkan target militer di sana.Ia juga memperingatkan bahwa infrastruktur minyak Iran bisa menjadi sasaran berikutnya jika Teheran terus mengganggu pelayaran di Selat Hormuz.Pasar kini mencermati dampak serangan tersebut terhadap jaringan pipa, terminal, dan fasilitas penyimpanan di Kharg.Gangguan kecil sekalipun berpotensi memperketat pasokan global dan menambah tekanan pada pasar energi yang sudah bergejolak. (DK)