Minyak tembus US$119, Wall Street terseret tekanan inflasi
Jumat, 20 Maret 2026

JAKARTA - Wall Street melemah pada Kamis (19/03), seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak, yang memperkecil peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Dikutip reuters, tekanan datang dari saham teknologi dan otomotif. Micron Technology turun setelah proyeksi kinerja mengecewakan, sementara Tesla melemah di tengah peningkatan pengawasan regulator AS terhadap fitur Full Self-Driving.
Pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, memperkuat sentimen negatif pasar. Ia menilai ketidakpastian ekonomi meningkat akibat konflik Timur Tengah yang mendorong harga energi lebih tinggi. The Fed memutuskan menahan suku bunga, diikuti bank sentral utama lain seperti Bank of England dan European Central Bank.
Kontrak berjangka suku bunga menunjukkan pasar tidak mengantisipasi pemangkasan sebelum pertengahan 2027. “Pasar sedang mencerna lebih jauh pernyataan Powell dan bank sentral lain, bahwa ini adalah risiko inflasi yang nyata,” kata Mike Dickson.
Harga minyak sempat melonjak setelah serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan, termasuk South Pars Gas Field, yang mendorong harga Brent menembus US$119 per barel sebelum terkoreksi.
Indeks utama mencatat penurunan terbatas. S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing turun 0,28%, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah 0,45%. Ketiga indeks berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, mencerminkan pelemahan tren pasar.
S&P 500 telah turun sekitar 3% sepanjang tahun ini dan berada di posisi terendah dalam empat bulan terakhir. Saham sektor tambang ikut tertekan seiring penurunan harga logam mulia, termasuk Newmont dan Freeport-McMoRan.
Di tengah tekanan pasar, data terbaru menunjukkan klaim pengangguran AS menurun, menandakan kondisi pasar tenaga kerja masih stabil.(DH)