Lifting migas lesu, laba RATU masih tumbuh 10,1% di 2025
Jumat, 20 Maret 2026

JAKARTA – PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), emiten hulu migas terafiliasi Hapsoro, mampu membukukan laba bersih tumbuh 10,1% secara tahunan di tengah pendapatan yang merosot. Laba bersih tahun 2025 menembus US$15,3 juta.
Padahal, berdasarkan laporan keuangan terbarunya, pendapatan RATU justru ambles 14,6% menjadi US$49,3 juta, seiring menurunnya pendapatan dari segmen lifting minyak dan gas.
RATU diketahui merupakan pemegang hak partisipasi (participating interest) dalam Blok Jabung di Jambi. Melalui anak usahanya, PT Raharja Energi Tanjung Jabung, Perseroan memiliki bagian 8% dalam blok migas di Jambi tersebut.
Sebagai catatan, produksi migas pada Blok Jabung menggunakan skema kontrak bagi hasil. RATU harus berbagi porsi dengan partisipan lain, yaitu PetroChina International Jabung Ltd., Petronas Carigali Jabung Ltd., PT Pertamina Hulu Energi Jabung, dan PT GPI Jabung Indonesia.
Di sisi lain, penurunan pendapatan Persroan juga memangkas beban pokok hingga 28,5%, membuat RATU mampu mendongkrak margin laba kotor, dari 38,9% di 2024 menjadi 48,8% per 2025.
“Seluruh beban pokok pendapatan merupakan pengakuan atas bagian biaya-biaya terkait operasional blok berdasarkan tagihan dari operator Blok Jabung, yaitu PetroChina International Jabung Ltd,” tulis manajemen dalam laporan keuangan.
Selain itu, Perseroan juga mampu meningkatkan margin laba bersih pada tahun 2025, dari 24,2% menjadi 30,8%.
Dari sisi neraca, liabilitas RATU menyusut menjadi US$19,4 juta berkat penyusutan saldo utang bank. “Seiring dengan pembayaran angsuran pinjaman selama tahun 2025,” jelas Supriyanti Priandini, Corporate Secretary RATU.
Di sisi lain, ekuitas justru melonjak menjadi US$56,6 juta, membuat aset juga tumbuh hingga 43,9%. “Peningkatan aset berasal dari dana hasil Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering/IPO),” imbuh Supriyanti.
Berdasarkan data IDNFinancials.com, RATU melangsungkan IPO-nya pada 8 Januari 2025 lalu, dengan harga penawaran Rp1.150 per lembar saham.
Hingga penutupan perdagangan Selasa (17/3), harganya sudah meroket hingga 317,4%, mendarat di level Rp4.800 per lembar.
Dalam setahun terakhir, harganya bahkan sempat melambung 10,5 kali lipat, menyentuh level tertinggi di Rp12.125 per lembar pada 27 November 2025. (ZH)