Serangan Iran ke proyek LNG, hapus 17% ekspor Qatar
Jumat, 20 Maret 2026

DUBAI – Serangan yang dilancarkan Iran telah memangkas sekitar 17% kapasitas ekspor gas alam cair (LNG) Qatar.
Seperti dikutip Reuters, dampaknya, negara tersebut berpotensi kehilangan pendapatan tahunan hingga sekitar US$20 miliar serta mengganggu pasokan energi ke Eropa dan Asia, menurut CEO QatarEnergy sekaligus Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi.
Dalam wawancara, Kaabi mengungkapkan bahwa dua dari 14 fasilitas pengolahan LNG (train) serta satu dari dua fasilitas gas-to-liquids (GTL) mengalami kerusakan akibat serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perbaikan diperkirakan akan menghentikan produksi sekitar 12,8 juta ton LNG per tahun selama tiga hingga lima tahun.
Kaabi menyatakan keterkejutannya atas serangan tersebut, terutama karena terjadi di bulan Ramadan dan melibatkan sesama negara Muslim di kawasan.
Serangan Iran ini terjadi beberapa jam setelah fasilitas gasnya sendiri menjadi sasaran serangan Israel, yang kemudian memicu eskalasi dengan menargetkan fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk.
Akibat kerusakan tersebut, QatarEnergy terpaksa menetapkan kondisi force majeure untuk kontrak jangka panjang pengiriman LNG ke sejumlah negara, termasuk Italia, Belgia, Korea Selatan, dan China, dengan durasi yang bisa mencapai lima tahun.
Sebelumnya, force majeure juga telah diberlakukan secara lebih luas setelah kompleks produksi Ras Laffan kembali diserang. Kaabi menegaskan bahwa produksi baru bisa kembali normal jika konflik benar-benar berhenti.
Perusahaan energi besar seperti ExxonMobil menjadi mitra pada fasilitas LNG yang terdampak, sementara Shell terlibat dalam fasilitas GTL yang juga mengalami kerusakan dan diperkirakan memerlukan waktu hingga satu tahun untuk diperbaiki.
Kerusakan ini turut memukul berbagai sektor lain. Ekspor kondensat Qatar diperkirakan turun 24%, LPG 13%, helium 14%, serta naphtha dan sulfur masing-masing turun 6%.
Dampaknya meluas hingga ke berbagai industri global, mulai dari penggunaan LPG di restoran India hingga industri semikonduktor Korea Selatan yang bergantung pada helium.
Nilai investasi fasilitas yang rusak diperkirakan mencapai US$26 miliar. Sementara itu, proyek ekspansi besar North Field milik Qatar juga terhenti dan berpotensi tertunda lebih dari satu tahun.
Kaabi menilai skala kerusakan ini telah membuat kawasan tersebut mundur hingga 10–20 tahun, sekaligus mengguncang citra Qatar sebagai wilayah yang aman.
Ia menegaskan bahwa konflik antara Iran dan Israel seharusnya tidak melibatkan negara lain di kawasan, serta menyerukan kepada semua pihak internasional untuk tidak menargetkan fasilitas minyak dan gas. (DK)