Diserang misil Iran, Adnoc hentikan fasilitas migas

Jumat, 20 Maret 2026

image

ABU DHABI - Raksasa minyak milik negara Abu Dhabi, Abu Dhabi National Oil Company, menghentikan operasional kilang Ruwais setelah terjadi kebakaran di salah satu fasilitas dalam kompleks akibat serangan drone, menurut sumber pada Selasa.

Seperti dikutip Reuters, insiden ini menjadi gangguan terbaru pada infrastruktur energi di tengah perang AS-Israel melawan Iran.

Kompleks tersebut menampung fasilitas ADNOC dengan kapasitas pengolahan hingga 922.000 barel minyak per hari, sekaligus menjadi pusat utama operasi hilir emirat, termasuk industri kimia, pupuk, dan gas.

Kantor media pemerintah Abu Dhabi menyatakan bahwa otoritas sedang menangani kebakaran pascaserangan drone dan memastikan tidak ada korban luka, meski tidak merinci fasilitas yang terdampak.

Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi terbaru setelah Teheran menyerang sejumlah negara tetangga sebagai respons atas serangan AS-Israel terhadap Iran.

Dampaknya, sejumlah negara terpaksa memangkas produksi karena distribusi melalui Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar seperlima minyak dunia, nyaris terhenti.

Sumber menyebut kilang ditutup sebagai langkah pencegahan, sementara operasi lain di kompleks tetap berjalan normal.

Pemantau industri IIR Energy melaporkan ADNOC menghentikan unit distilasi minyak mentah di Ruwais Refinery 2 (Barat) berkapasitas 417.000 barel per hari pascaserangan drone, dan tengah merencanakan penghentian operasional demi keselamatan di seluruh fasilitas.

IIR juga mencatat bahwa sebelumnya ADNOC telah mengurangi operasi di beberapa unit Ruwais Refinery 1 (Timur) berkapasitas 400.000 barel per hari sekitar 10%–20% sejak 6 Maret akibat konflik regional.

Hingga kini, ADNOC, Kantor Media Abu Dhabi, dan Kementerian Luar Negeri UEA belum memberikan tanggapan resmi.

Di Arab Saudi, kebakaran kecil akibat serangan pekan lalu di kilang Ras Tanura, yang terbesar di negara itu, berhasil segera dikendalikan, ujar CEO Saudi Aramco, Amin Nasser.

Ia menambahkan bahwa kilang kini dalam proses pemulihan operasi.

Nasser memperingatkan adanya “konsekuensi katastrofik” jika jalur selat tetap ditutup, seiring laporan kinerja Aramco.

Menurut IIR, kilang di Arab Saudi, Irak, UEA, Bahrain, Kuwait, dan Qatar telah menghentikan sekitar 1,9 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak akibat konflik.

Bapco Energies di Bahrain menetapkan force majeure atas operasionalnya setelah serangan terhadap kompleks kilang, sementara Kuwait Petroleum Corporation mulai memangkas produksi dan juga menyatakan force majeure.

Qatar turut menghentikan produksi LNG yang menyumbang sekitar 20% ekspor global.

Di Asia, semakin banyak kilang yang bergantung pada pasokan minyak Timur Tengah mulai mengurangi produksi akibat terbatasnya ketersediaan minyak mentah. (DK)