China bangun Kanal Pinglu hubungkan jalur laut dan sungai, untuk apa?

Jumat, 20 Maret 2026

image

TIONGKOK - Kanal Pinglu, proyek unggulan dalam koridor perdagangan darat-laut baru di China Barat Daya, kini memasuki tahap uji coba peralatan.

Seperti dikutip Globaltimes, perkembangan ini menandai langkah penting menuju operasional penuh, sebagaimana dilaporkan media pemerintah.

Proyek ini mencerminkan upaya aktif China memperkuat konektivitas lintas wilayah di tengah perlambatan perdagangan global dan ketidakpastian eksternal.

Dengan meningkatkan infrastruktur, China berupaya membuka peluang baru sekaligus menopang strategi “sirkulasi ganda”.

Kanal sepanjang 134,2 kilometer ini dirancang untuk kapal hingga 5.000 ton dan diharapkan memperkuat akses wilayah barat ke pasar internasional.

Salah satu dampak utamanya adalah peningkatan efisiensi logistik melalui integrasi jalur sungai dan laut yang menghubungkan sistem Sungai Xijiang dengan pelabuhan pesisir.

Rute ini diproyeksikan memangkas jarak pengiriman lebih dari 560 kilometer dibanding jalur lama melalui Guangzhou, serta mempercepat waktu pengiriman, misalnya dari Chongqing ke Singapura dari 22 hari menjadi sekitar tujuh hari.

Selain mempercepat distribusi, pengurangan proses bongkar muat juga meningkatkan keandalan rantai pasok. Biaya logistik yang lebih rendah dan stabil diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi serta memperkuat rantai industri.

Konektivitas yang lebih baik juga membuka akses langsung wilayah barat ke pasar global, khususnya Asia Tenggara, sehingga memperluas jalur perdagangan dan mengurangi ketergantungan pada rute tertentu.

Kanal ini diperkirakan dapat menambah nilai perdagangan hingga hampir 13 miliar yuan pada 2027–2035, dan lebih dari 130 miliar yuan pada 2036–2050.

Di luar perdagangan, proyek ini turut mendorong perkembangan industri di sepanjang jalur kanal.

Sejumlah kawasan industri mulai tumbuh, termasuk produksi lithium karbonat dan industri pulp dan kertas, mencerminkan terbentuknya “sabuk ekonomi kanal” yang mengintegrasikan transportasi, industri, dan kawasan perkotaan.

Kanal ini juga mendukung kerja sama rantai pasok dengan negara ASEAN, seiring meningkatnya konektivitas lintas batas. Kawasan perbatasan dan industri di sekitar pelabuhan diperkirakan akan berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru.

Dari sisi lingkungan, transportasi air dinilai lebih efisien dan rendah emisi dibanding darat dan udara. Pengalihan sebagian angkutan ke jalur air diperkirakan dapat menurunkan emisi karbon sekitar 663.000 ton pada 2035.

Secara keseluruhan, pembangunan Kanal Pinglu tidak hanya menjadi proyek infrastruktur, tetapi juga strategi jangka panjang China untuk memperkuat ekonomi, mengurangi hambatan, dan menjadikan wilayah barat sebagai pusat pertumbuhan dan keterbukaan baru. (DK)