Industri semikonduktor terpukul, perang Iran picu kelangkaan helium

Jumat, 20 Maret 2026

image

TEHERAN - Sejak perang di Iran pecah pada 28 Februari, kekhawatiran soal minyak dan gas mendominasi perhatian publik.Namun, gangguan lain dalam rantai pasok global kini ikut memicu kekhawatiran: kelangkaan helium, bahan penting dalam produksi semikonduktor, chip kecil yang menggerakkan berbagai perangkat, dari kendaraan listrik hingga smartphone.Dilansir dari DW, kekurangan helium berkepanjangan berpotensi menghambat produksi chip canggih dan berdampak pada produsen elektronik, bahkan memaksa sebagian perusahaan menunda ekspansi pusat data.Helium, meski tak berwarna dan tak berbau, memiliki banyak kegunaan, mulai dari pemindaian MRI, produksi serat optik, hingga pengelasan.Namun saat ini, industri semikonduktor menjadi sektor yang paling terdampak.Helium berkualitas tinggi sangat penting untuk menjaga lingkungan produksi chip tetap sangat bersih dan dingin, serta mendukung proses vakum dan perpindahan panas.Tanpa helium ultra-murni, produksi bisa melambat atau bahkan terhenti.Sebagian besar helium industri berasal sebagai produk sampingan dari produksi gas alam cair (LNG).Negara seperti Qatar menjadi pemasok utama dunia, dengan cadangan terbesar dan kontribusi lebih dari sepertiga produksi global.Namun, serangan terkait konflik membuat Qatar menghentikan sebagian besar produksi LNG-nya.Selain itu, penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz menyebabkan sekitar sepertiga pasokan helium global terhenti.Distribusi helium juga tidak mudah karena harus disimpan dalam bentuk cair ultra-dingin atau gas bertekanan, dengan kapasitas penyimpanan terbatas di seluruh dunia. Hal ini memperparah risiko kekurangan pasokan.Meski cadangan masih tersedia untuk beberapa minggu, para ahli memperkirakan harga helium akan naik dan pasokan makin ketat jika gangguan berlanjut.Sementara itu, mencari sumber alternatif bukan hal mudah karena banyak pasokan sudah terikat kontrak jangka panjang.Dengan industri semikonduktor global yang terus tumbuh pesat, lonjakan permintaan helium membuat risiko krisis ini semakin serius dan berpotensi mengganggu produksi teknologi di seluruh dunia. (DK)