Harga aluminium tembus ke US$3.545, tertinggi sejak 4 tahun terakhir

Jumat, 20 Maret 2026

image

JAKARTA - Perang Amerika Serikat - Israel melawan Iran memasuki pekan ketiga dan langsung mengguncang rantai pasok aluminium global. Gangguan produksi di kawasan teluk mempercepat krisis pasokan di pasar fisik.

Dikutip reuters, dua smelter utama di teluk memangkas kapasitas, sementara penutupan selat hormuz menahan arus ekspor dan distribusi bahan baku. Kawasan timur tengah menyumbang sekitar 9% produksi aluminium dunia, dan porsinya melonjak jika pasokan dari China dan Rusia tidak diperhitungkan.

Stok di London Metal Exchange (LME) terus menyusut saat pelaku pasar berebut pasokan, memperparah tekanan di pasar fisik.

Harga aluminium langsung melonjak. Kontrak tiga bulan LME menyentuh US$3.545,50 per ton level tertinggi dalam empat tahun. Dampaknya cepat menjalar ke pasar regional. Pembeli Jepang akhirnya menerima premi US$350 per ton untuk pengiriman kuartal kedua setelah sebelumnya menolak kenaikan harga.

Tekanan lebih besar muncul di Eropa dan Amerika Serikat. Premi aluminium di Eropa menembus US$450 per ton, tertinggi sejak 2022. Di AS, premi Midwest melonjak hingga US$2.400 per ton di atas harga LME, memperburuk beban industri yang sudah menghadapi tarif impor tinggi.

Produsen mulai menahan output. Aluminium Bahrain dan Qatalum memangkas total kapasitas sekitar 570.000 ton per tahun. Pengiriman ekspor praktis berhenti karena risiko pelayaran di selat hormuz.

Emirates Global Aluminium tetap menjalankan produksi penuh, tetapi mengalihkan sebagian pengiriman melalui Oman untuk menjaga arus distribusi. Langkah ini hanya memberi ruang terbatas di tengah tekanan logistik yang terus meningkat.

Masalah pasokan tidak hanya datang dari distribusi. Produsen juga menghadapi hambatan bahan baku. Sebagian besar smelter di Teluk bergantung pada impor alumina. Hanya Ma'aden yang memiliki rantai produksi terintegrasi dari tambang hingga pemurnian.

Di sisi lain, pasar global tidak memiliki banyak alternatif. China lebih fokus mengekspor produk setengah jadi, sementara kapasitas produksinya hampir menyentuh batas. Rusia mengalihkan ekspor ke Asia setelah sanksi Barat, sehingga pasokannya sulit diakses oleh pembeli Eropa dan AS.

Trader mulai menarik stok dari gudang LME untuk menutup kekurangan pasokan. Lebih dari 150.000 ton logam telah disiapkan untuk pengiriman sejak awal bulan, terutama dari pusat penyimpanan di Malaysia. Namun, sebagian stok terutama asal Rusia tetap tidak terserap pasar Barat.

Cadangan di luar sistem LME juga terus menyusut. Kondisi ini mendorong perubahan struktur harga ke backwardation, yang menandakan kekurangan pasokan jangka pendek semakin akut.

Kenaikan harga energi memang menyita perhatian sejak konflik Iran pecah. Namun tekanan di pasar aluminium berkembang lebih cepat dan lebih dalam. Krisis ini sekaligus membuka ketergantungan besar industri barat pada pasokan aluminium primer dari timur tengah.(DH)