Pentagon siapkan dana US$200 miliar, apa tanggapan Abbas Araghchi
Jumat, 20 Maret 2026

JAKARTA - Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan tidak ada batas waktu untuk mengakhiri perang melawan Iran. Ia juga tidak membantah kebutuhan tambahan dana hingga US$200 miliar untuk membiayai operasi militer yang terus meluas.
Ofensif militer AS bersama Israel telah berlangsung tiga minggu dan intensitasnya meningkat. Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam akan “menghancurkan secara besar-besaran” ladang gas terbesar dunia setelah serangan Israel memicu eskalasi Iran terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk.
Seperti dikutip TheGuardian, Hegseth menyebut skala operasi terus diperbesar. “Hingga saat ini, kami telah menyerang lebih dari 7.000 target di seluruh Iran dan infrastruktur militernya,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Hari ini akan menjadi paket serangan terbesar sejauh ini … kematian dan kehancuran dari udara.”
Meski harga minyak melonjak dan tekanan politik meningkat, Pentagon belum menyiapkan strategi keluar. “Kami tidak ingin menetapkan kerangka waktu yang pasti,” kata Hegseth.
Ia menegaskan keputusan akhir ada di tangan Presiden Donald Trump. “Pada akhirnya, itu akan menjadi pilihan presiden, ketika kami mengatakan, ‘kami telah mencapai apa yang perlu kami capai.’”
>> Tanggapan Abbas Araghchi
Operasi juga meluas ke jalur strategis Selat Hormuz. Pasukan AS menargetkan kapal, termasuk penebar ranjau dan kapal selam, untuk membuka kembali jalur yang sempat ditutup Iran.
Pentagon menegaskan tujuan operasi tidak berubah, yakni menghancurkan kemampuan rudal Iran, melemahkan industri pertahanan, dan mencegah pengembangan senjata nuklir. “Tujuan kami tidak berubah, tetap pada sasaran dan sesuai rencana,” kata Hegseth.
Terkait anggaran perang, ia mengakui kebutuhan dana besar untuk operasi lanjutan. “Untuk angka US$200 miliar, saya pikir itu bisa berubah. Jelas, dibutuhkan uang untuk mengalahkan musuh,” ujarnya.
Militer AS juga meningkatkan jangkauan serangan ke wilayah lebih dalam di Iran, menargetkan fasilitas bawah tanah, basis drone, dan sistem rudal dengan amunisi penembus bunker.
Menanggapi rencana Amerika menambah anggaran perang Iran US%200 miliar, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di X mengatakan: "Kita baru memasuki tiga minggu dari perang pilihan ini, yang diaksakan baik kepada rakyat Iran maupun Amerika."
Angka US$200 miliar ini hanyalah puncak gunung es. "Warga Amerika biasa dapat “berterima kasih” kepada Benjamin Netanyahu dan para sekutunya di Kongres atas “Pajak Israel First” senilai triliunan dolar yang akan segera menghantam ekonomi AS."
[[ Catatan: Pajak Israel First maksudnya adalah kebijakan luar negeri AS yang dianggap terlalu mendukung Israel (terutama dalam konflik/perang) akan menimbulkan biaya besar bagi ekonomi AS. Biaya ini bisa berupa: anggaran militer (perang, bantuan senjata), bantuan finansial ke luar negeri, kenaikan harga energi global, dampak inflasi dan defisit. Semua biaya itu pada akhirnya ditanggung oleh rakyat AS (melalui pajak, inflasi, atau utang negara. Jadi disebut “tax” (pajak) secara kiasan, seolah-olah rakyat Amerika dipaksa “membayar” kebijakan tersebut.]] (DH/MT)